Shalat berjamaah memiliki tata cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, termasuk dalam cara membaca Surah Al-Fatihah dan surat setelahnya. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa imam tidak mengeraskan bacaan Al-Fatihah pada shalat Zuhur dan Ashar, sedangkan pada shalat Subuh, Maghrib, dan Isya bacaan tersebut terdengar jelas?
Jawabannya tidak terletak pada perbedaan isi bacaan, melainkan karena mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ yang membedakan antara shalat jahr (bacaan dikeraskan) dan shalat sirr (bacaan dipelankan).
Shalat Jahar dan Shalat Sirr
Dalam Islam, shalat fardu dibagi menjadi dua cara membaca bacaan Al-Qur’an:
Shalat Jahar (bacaan dikeraskan):
-
Shalat Subuh (2 rakaat)
-
Shalat Maghrib (2 rakaat pertama)
-
Shalat Isya (2 rakaat pertama)
Pada shalat ini, imam dianjurkan mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat setelahnya agar dapat didengar oleh makmum.
Shalat Sirr (bacaan dipelankan):
-
Shalat Zuhur
-
Shalat Ashar
-
Rakaat ketiga Maghrib
-
Rakaat ketiga dan keempat Isya
Pada shalat sirr, imam tetap membaca Al-Fatihah dan surat Al-Qur’an, tetapi dengan suara yang pelan sehingga tidak terdengar oleh makmum.
Dalil dari Sunnah Rasulullah ﷺ
Cara membaca bacaan shalat ini bukanlah hasil ijtihad para ulama, melainkan berdasarkan praktik langsung Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda:
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi dasar bahwa tata cara shalat harus mengikuti contoh Rasulullah ﷺ, termasuk kapan bacaan dikeraskan dan kapan dipelankan.
Selain itu, para sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ membaca pelan pada shalat Zuhur dan Ashar. Meskipun suara beliau tidak terdengar, para sahabat mengetahui bacaan beliau dari gerakan bibir dan terkadang beliau memperdengarkan sebagian ayat.
Mengapa Zuhur dan Ashar Dibaca Pelan?
Para ulama menjelaskan beberapa hikmah di balik ketentuan tersebut, di antaranya:
1. Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ
Alasan utama adalah karena itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Seorang muslim diperintahkan untuk mengikuti tata cara ibadah sebagaimana yang telah beliau ajarkan.
2. Menunjukkan Ketaatan kepada Allah
Tidak semua tata cara ibadah harus diketahui hikmah secara rinci. Seorang muslim tetap melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
3. Memberikan Kekhusyukan
Shalat Zuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu siang ketika aktivitas manusia sedang berlangsung. Bacaan yang dipelankan membantu menjaga kekhusyukan tanpa mengganggu orang lain yang sedang beraktivitas.
4. Variasi dalam Ibadah
Islam mengajarkan variasi dalam beberapa bentuk ibadah agar umat tidak merasa monoton serta lebih memperhatikan setiap tata cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Apakah Makmum Tetap Membaca Al-Fatihah?
Masalah ini termasuk pembahasan fikih yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Sebagian ulama berpendapat bahwa makmum tetap membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, baik pada shalat jahr maupun sirr.
Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa pada shalat jahr makmum cukup mendengarkan bacaan imam, sedangkan pada shalat sirr makmum membaca Al-Fatihah sendiri.
Perbedaan ini merupakan khazanah keilmuan Islam yang memiliki landasan dalil masing-masing, sehingga hendaknya disikapi dengan saling menghormati.
Bolehkah Imam Mengeraskan Bacaan Zuhur dan Ashar?
Hukum asalnya, imam disunnahkan membaca pelan pada shalat Zuhur dan Ashar.
Namun, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ sesekali memperdengarkan sebagian ayat kepada para sahabat. Hal ini bukan untuk mengubah tata cara shalat menjadi jahr, melainkan agar para sahabat mengetahui bacaan yang sedang dibaca beliau.
Karena itu, kebiasaan mengeraskan seluruh bacaan Al-Fatihah dan surat dalam shalat Zuhur atau Ashar tidak sesuai dengan tuntunan sunnah.
Kesimpulan
Imam tidak mengeraskan bacaan Al-Fatihah pada shalat Zuhur dan Ashar karena mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Kedua shalat tersebut termasuk shalat sirr, yaitu shalat yang bacaan Al-Qur’annya dipelankan. Sementara itu, shalat Subuh, dua rakaat pertama Maghrib, dan dua rakaat pertama Isya termasuk shalat jahr, yaitu bacaan yang dikeraskan.
Sebagai umat Islam, sikap terbaik adalah meneladani tata cara shalat yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ. Dengan memahami dalil dan hikmah di balik setiap ketentuan ibadah, diharapkan kualitas shalat menjadi semakin baik, khusyuk, dan sesuai dengan tuntunan syariat.
Sumber:islam.com











