Surat Al-Baqarah, Tentang Sapi Betina Di Zaman Nabi Musa

📖 Kisah Sapi (Al-Baqarah) – Ayat 67–73

🔹 Konteks Kisah

Kisah ini menceritakan tentang Bani Israil (kaum Nabi Musa) yang diminta oleh Allah untuk menyembelih seekor sapi, tapi mereka berdebat, merumitkan perintah, dan menunjukkan sikap keras kepala dan kurang taat.

📌 Ayat 67

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.’ Mereka berkata: ‘Apakah kamu hendak menjadikan kami sebagai olok-olokan?’ Musa menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.'”

Tafsir:
Allah memerintahkan mereka menyembelih sapi, tapi mereka malah mengejek seolah Musa sedang bercanda. Ini menunjukkan ketidaktaatan dan sikap meremehkan perintah Allah.

📌 Ayat 68–71

Mereka mulai berdebat panjang tentang ciri-ciri sapi:

  • Ayat 68: “Tolong jelaskan, seperti apa sapinya?”

  • Ayat 69: “Warna apa?”

  • Ayat 70: “Jenis apa? Usia berapa?”

Tafsir:
Mereka bukannya langsung taat, malah terus menunda-nunda dan memperumit perintah Allah dengan banyak bertanya. Semakin banyak bertanya, Allah pun memberikan syarat yang semakin spesifik.

Akhirnya mereka berkata:

“Sekarang engkau baru membawa kebenaran…”

Lalu mereka menyembelih sapi itu, tapi dengan enggan.

📌 Ayat 72–73: Misteri Pembunuhan

Ada seorang lelaki Bani Israil yang terbunuh, dan mereka bingung siapa pelakunya.

Allah perintahkan:

“Pukullah mayat itu dengan bagian dari sapi yang disembelih.”

Dan ketika dilakukan, orang yang mati itu hidup kembali sejenak dan menyebutkan siapa pembunuhnya, lalu mati kembali.

Tafsir:
Ini adalah mukjizat untuk mengungkap kebenaran dan memperlihatkan kuasa Allah yang bisa menghidupkan orang mati.

🧠 Hikmah dari Kisah Sapi Ini

  1. Taatlah kepada perintah Allah tanpa membantah

    • Semakin kita berdebat dengan wahyu, bisa makin sulit urusannya.

  2. Jangan suka memperumit agama

    • Islam itu sederhana. Jangan menunda atau memperberat perintah Allah tanpa alasan.

  3. Keajaiban bisa terjadi bila kita taat

    • Mukjizat terjadi sebagai bukti kekuasaan Allah.

  4. Sikap keras kepala adalah ciri orang yang tidak bersyukur

    • Ini pelajaran agar tidak meniru sikap Bani Israil.

🌟 Penutup

Itulah kisah sapi (Al-Baqarah) yang jadi nama surat ini. Meski terlihat sederhana, kisah ini punya pelajaran akidah dan ketaatan yang sangat dalam.

Kalau kamu mau, aku juga bisa bantu:

  • Tafsir ayat 67–73 satu per satu

  • Menyambungkan kisah ini dengan konteks zaman sekarang

  • Atau bahas kisah Bani Israil lainnya di surat ini

Kamu tertarik lanjut ke bagian mana?

Berikut Ini Ringkasan isi kandungan surah Al-Baqarah

 

Surat Al-Baqarah adalah surat ke-2 dalam Al-Qur’an, termasuk golongan surat Madaniyah (diturunkan di Madinah), dan merupakan surat terpanjang dalam Al-Qur’an dengan 286 ayat. Isi dari surat Al-Baqarah sangat luas dan mencakup berbagai tema penting dalam Islam. Berikut adalah ringkasan isi pokoknya:

🕌 1. Keimanan dan Petunjuk Al-Qur’an

  • Awal surat menekankan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa (ayat 1–5).

  • Ciri-ciri orang beriman, kafir, dan munafik dijelaskan dengan jelas.

🧎‍♂️ 2. Seruan untuk Beriman dan Patuh kepada Allah

  • Seruan kepada Bani Israil untuk mengingat nikmat Allah dan taat kepada-Nya (ayat 40–121).

  • Banyak kisah tentang ketidaktaatan mereka sebagai pelajaran bagi umat Islam.

📜 3. Kisah-Kisah Umat Terdahulu

  • Kisah Nabi Musa dan Bani Israil.

  • Kisah penyembelihan sapi (al-Baqarah), yang menjadi nama surat ini.

  • Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah.

🧭 4. Perubahan Kiblat dan Ujian Ketaatan

  • Perintah untuk mengubah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah (ayat 142–150).

  • Ujian bagi kaum Muslimin untuk tetap taat kepada Allah.

📚 5. Hukum-Hukum Syariat

Surat ini juga dikenal sebagai “Surat Ahkam” karena banyaknya hukum Islam yang dibahas, seperti:

  • Hukum puasa di bulan Ramadan.

  • Hukum qisas (balasan yang setimpal dalam hukum pidana).

  • Hukum warisan.

  • Hukum jual beli dan riba.

  • Hukum pernikahan dan perceraian.

  • Larangan memakan riba, dan anjuran sedekah.

💰 6. Ekonomi dan Etika Keuangan

  • Penekanan pada keadilan dalam perdagangan.

  • Larangan keras terhadap riba.

  • Anjuran memberi pinjaman kepada Allah (infaq di jalan Allah).

🌙 7. Ibadah dan Kehidupan Sosial

  • Kewajiban puasa Ramadan.

  • Anjuran tolong-menolong dalam kebaikan.

  • Larangan menyembunyikan kebenaran.

🤲 8. Doa dan Penutup

Surat ini diakhiri dengan doa yang sangat indah dan penuh makna (ayat 285–286), termasuk:

“رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا…”
(“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah…”)

Kesimpulan:

Surat Al-Baqarah adalah pedoman menyeluruh tentang:

  • Akidah (keimanan),

  • Syariat (hukum),

  • Akhlak,

  • Sejarah umat terdahulu sebagai pelajaran,

  • Dan prinsip-prinsip hidup dalam masyarakat Islam.

 

Surat Al Kahfi Tentang Menceritakan Tentang Apa?

Surat Al-Kahfi adalah surat ke-18 dalam Al-Quran yang berisi beberapa kisah utama dan pelajaran penting bagi umat Islam. Surat ini dinamai “Al-Kahfi” yang berarti “gua,” merujuk kepada kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua), yaitu sekelompok pemuda beriman yang melarikan diri dari penindasan dan bersembunyi di sebuah gua, kemudian tertidur selama ratusan tahun sebagai tanda kebesaran Allah. Kisah ini mengajarkan tentang kekuatan iman, perlindungan Tuhan, dan kehidupan setelah kematian.

Selain kisah Ashabul Kahfi, surat ini juga menceritakan:

  • Kisah dua orang dengan kebun yang berbeda sikap terhadap nikmat Allah, mengajarkan pentingnya bersyukur dan bahaya kesombongan.

  • Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidr, yang mengandung pelajaran tentang kesabaran dan kebijaksanaan Allah dalam setiap peristiwa.

  • Kisah Dzulqarnain yang membangun bendungan untuk menghalangi Ya’juj dan Ma’juj sebagai penggambaran kekuasaan Allah di dunia.

  • Adanya ancaman bagi orang kafir dan janji balasan bagi orang beriman.

  • Penekanan pada pentingnya iman, ilmu, harta, dan kekuasaan yang harus digunakan sesuai dengan tuntunan Allah.

Surat Al-Kahfi juga memiliki keutamaan dibaca setiap hari Jumat sebagai pelindung dari fitnah Dajjal dan untuk mendapatkan cahaya di antara dua Jumat. Bacaan sepuluh ayat pertama surat ini dipercaya dapat memberikan perlindungan khusus.

Kesimpulannya, Surat Al-Kahfi mengandung kisah-kisah yang memberikan pembelajaran tentang iman, kesabaran, hikmah, dan keadilan Tuhan serta perlindungan dari fitnah duniawi dan akhirat.

Mengapa Islam Melarang Makan Daging Babi

Mengapa Islam Melarang Makan Daging Babi?

Dalam ajaran Islam, makanan yang dikonsumsi oleh umatnya bukan hanya soal kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu larangan paling dikenal adalah larangan mengonsumsi daging babi. Larangan ini bukan tanpa alasan, dan berikut penjelasan dari beberapa sudut pandang: agama, kesehatan, dan spiritualitas.

1. Perintah Langsung dari Allah dalam Al-Qur’an

Larangan makan daging babi disebutkan secara eksplisit dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Salah satunya dalam Surah Al-Baqarah ayat 173:

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah…” (QS. Al-Baqarah: 173)

Ayat serupa juga terdapat dalam Surah Al-Ma’idah: 3, Al-An’am: 145, dan An-Nahl: 115. Dalam Islam, hukum halal dan haram bukan hanya dilihat dari dampaknya, tetapi yang utama adalah ketaatan kepada perintah Allah SWT.

2. Pertimbangan Kesehatan

Beberapa penelitian modern menemukan bahwa daging babi memiliki risiko kesehatan tertentu, terutama jika tidak dimasak dengan benar:

  • Cacing pita (Taenia solium) dan parasit lain seperti Trichinella spiralis bisa hidup dalam tubuh babi dan menular ke manusia melalui daging yang kurang matang.

  • Babi adalah hewan omnivora yang memakan apa saja, termasuk kotorannya sendiri, sehingga lebih rentan membawa penyakit.

  • Kandungan lemak dalam daging babi relatif tinggi, terutama lemak jenuh, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi berlebihan.

Walaupun teknologi kini telah berkembang untuk meminimalkan risiko tersebut, prinsip Islam tetap mengedepankan kebersihan dan kesucian lahir batin.

3. Kebersihan dan Kesucian dalam Islam

Islam sangat menekankan konsep thayyib—yang tidak hanya halal, tapi juga baik, bersih, dan bermanfaat. Babi dalam banyak budaya dan sejarah dianggap sebagai hewan yang najis karena sifat dan lingkungan hidupnya. Dalam Islam, bukan hanya daging babi yang haram, tetapi seluruh bagian tubuhnya termasuk lemak dan produknya, kecuali dalam kondisi darurat.

4. Ketaatan sebagai Bentuk Ibadah

Meskipun seseorang mungkin tidak melihat langsung dampak negatif dari memakan daging babi, umat Islam diajarkan untuk tunduk pada perintah Allah tanpa harus menunggu alasan logis. Ketaatan inilah yang membedakan orang beriman.

Kesimpulan

Larangan makan daging babi dalam Islam adalah bagian dari sistem nilai yang melibatkan ketaatan, kebersihan, dan perlindungan terhadap kesehatan. Baik dari sisi spiritual maupun ilmiah, larangan ini membawa hikmah yang besar bagi umat manusia. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperhatikan aspek kehidupan sehari-hari, termasuk apa yang dikonsumsi.

“Apa yang dilarang oleh Allah pasti mengandung mudharat, meskipun terkadang manusia belum menyadarinya.”

Jika Anda ingin artikel ini dalam bentuk yang lebih singkat, atau dengan tambahan kutipan dari hadits dan ulama, saya bisa bantu menyesuaikan.

Ini Sebab Bacaan Alfatekhah Dhuhur Dan Ashar Tidak Dikeraskan

Pembacaan Al-Fatihah dalam sholat Duhur dan Ashar tidak dikeraskan karena kedua sholat tersebut merupakan sholat yang dilakukan secara sirri (pelan), yang di dalamnya pembacaan Al-Fatihah dan bacaan lainnya dilakukan dengan suara pelan, bukan dengan suara keras.

 

Hal ini sesuai dengan petunjuk dalam hadis dan tata cara sholat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pembacaan dengan suara keras umumnya dilakukan dalam sholat Maghrib, Isya, dan Subuh, yang merupakan sholat yang dilakukan pada waktu malam atau pagi, di mana umat Muslim diminta untuk membaca dengan suara keras agar bisa terdengar oleh orang lain yang sedang beribadah atau yang berada di sekitar.

Pada sholat Duhur dan Ashar, yang dilakukan pada siang hari, suara yang lebih pelan atau tidak dikeraskan lebih dianjurkan agar lebih khusyuk, selain itu juga tidak mengganggu orang lain yang mungkin sedang beribadah di sekitarnya. Pembacaan Al-Fatihah tetap menjadi bagian yang sangat penting dalam sholat, meskipun dilakukan dengan suara pelan.

Hingga Allah SWT menurunkan Firmannya yang tertera dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra Ayat 110,

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Artinya: “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

Tafsir dan penyebab turunnya ayat tersebut adalah ketika Rasulullah SAW berada di Mekkah. Saat itu, beliau tengah melaksanakan Sholat berjamaah bersama para sahabat dengan mengeraskan bacaan surat.

Kaum musyrikin Mekkah mendengarnya, lalu mencaci bacaan Rasulullah tersebut, mencaci Dzat yang menurunkannya dan mencaci pula yang menyampaikannya (Rasulullah). Karena itulah Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu” sehingga potongan ayat tersebut bermaksud agar orang musyrik tidak mendengar bacaannya.

Tetapi Allah juga menyampaikan, “dan jangan pula merendahkannya” sehingga bacaan sholat masih tetap terdengar oleh sahabat yang berada pada shaff pertama. Oleh karenanya, Allah melanjutkan dengan “dan carilah jalan tengah antara keduanya.”

Apasih Perbedaan Antara Shalat Tarawih 23 Rakaat dan 11 Rakaat

Sholat tarawih merupakan salah satu amalan yang dianjurkan untuk dilaksanakan pada saat bulan Ramadan. ibadah yang hukumnya sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena memiliki banyak keutamaan. Akan tetapi masih ada kebingungan apakah sholat tarawih 11 atau 23 rakaat dan apa sih yang mendasari perbedaan tersebut.

Yang Perlu diketahui sebelumnya bahwa sholat di malam hari saat bulan Ramadhan kerap dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya. Akan tetapi pada waktu itu Rasulullah tidak menyebut sholat tersebut dengan nama atau istilah ‘sholat tarawih’.

Apasih Perbedaan Antara Shalat Tarawih 23 Rakaat dan 11 Rakaat

Bukan hanya itu, untuk jumlah rakaatnya juga tak pernah dijelaskan secara gamblang oleh Rasulullah SAW. Walaupun demikian, terdapat sebuah hadits dari Aisyah r.a. yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan sholat Tarawih 8 rakaat dan dilanjutkan Witir 3 rakaat. Aisyah berkata,“Beliau tak menambah pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat: shalat empat rakaat, yang betapa bagus dan lama, kemudian tiga rakaat. Aku pun pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum menunaikan shalat witir?” Beliau menjawab, “Mataku tidur, tapi hatiku tidak.” Hadits itulah yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan shalat Tarawih 11 rakaat (8 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir). Aisyah juga menjelaskan bahwa pelaksanakan 8 rakaat tarawih yakni 4 rakaat, 4 rakaat, dan diakhiri dengan 3 rakaat witir. Sementara itu, pengerjaan sholat tarawih 8 rakaat juga bisa dilaksanakan dengan masing-masing 2 rakaat 1 salam.

Di sisi lain, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Dawud azh Zhahiri memilih untuk mengerjakan Tarawih dengan 20 rakaat. Pemilihan itu didasarkan pada perilaku sahabat, dimana orang-orang pada masa Umar bin Khattab mengerjakan shalat Tarawih dengan 20 rakaat dan dilanjut melaksanakan shalat Witir 3 rakaat. Dasar itulah yang kemudian menjadi rujukan pelaksanaan sholat Tarawih 23 rakaat. Perihal mana yang lebih utama dari keduanya, belum ada satu pun dalil yang menjelaskan mengenai hal tersebut, sehingga salah satunya tidak bisa disebut lebih utama dari yang lainnya. Wallahu a’lam bish shawab. Itulah perbedaan shalat Tarawih 23 rakaat dan 11 rakaat.

Demikian informasi seputar jumlah rakaat sholat tarawih di bulan Ramadan. Oleh sebab itu umat Islam boleh melaksanakan sholat tarawih 11 rakaat maupun 23 rakaat karena keduanya sama-sama memiliki landasan dan wajib untuk dihargai.

Sumber:Beritaislam.com

Waktu Sholat Tahajud Terbaik Dilakukan

Sholat tahajud merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena, Sholat Tahajud tersebut mengandung banyak sekali keutamaan.

Dalam Tafsir Al Mishbah susunan M Quraish Shihab, Al-Biqa’i mengartikan tahajud sebagai meninggalkan tidur dan menunaikan sholat. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai keutamaan sholat tahajud dalam hadits riwayat Tirmidzi dan Ahmad.

“Kerjakanlah sholat malam, karena sholat malam adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kalian, juga sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Tuhan kalian, sebagai penebus dosa, mencegah dosa, dan juga dapat menghindarkan penyakit dari tubuh.” (HR Imam Tirmidzi & Ahmad)

Lalu kapan waktu terbaik mengerjakan sholat tahajud?
Waktu Terbaik Mengerjakan Sholat Tahajud

Sholat tahajud umumnya dilaksanakan pada malam hari dan sering disebut sebagai sholat malam. Menukil dari buku Kajian Fikih dalam Bingkai Aswaja susunan Ahmad Hawassy, setidaknya ada tiga pembagian waktu sholat tahajud yang dinilai paling baik.

Waktu yang sangat utama adalah pada sepertiga malam pertama, yaitu dimulai sejak setelah waktu Isya sampai pukul 22.00. Sementara itu, waktu yang lebih utama ialah sepertiga malam kedua pada pukul 22.00 sampai 01.00 dini hari.

Lalu, waktu paling utama adalah sepertiga malam terakhir yang dimulai pada 01.00 dini hari hingga waktu Subuh. Nabi Muhammad SAW sendiri Ketika melakukan tahajud pada sepertiga malam terakhir, hal ini sesuai dengan riwayat Abu Muslim yang bertanya pada Abu Dzar, “Pada waktu manakah yang lebih utama untuk kita mengerjakan sholat malam?”

Abu Dzar menjawab, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.”

Nabi SAW bersabda, “Perut malam yang masih tinggal adalah sepertiga malam yang terakhir. Sayang tidak banyak orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Jam Sholat Tahajud adalah Waktu Mustajab untuk Berdoa

Dalam buku Keajaiban Tahajud, Subuh dan Dhuha untuk Hidup Berkah, Bergelimang Harta, Sukses dan Bahagia oleh Ferry Taufiq El Jaquene dikatakan bahwa Allah SWT telah berjanji akan mengabulkan harapan seseorang di waktu sholat tahajud. Dalam sebuah riwayat. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap malam Allah SWT turun ke langit dunia sampai tersisa sepertiga malam yang terakhir. Ia (Allah) pun berkata, ‘Adakah hamba-Ku yang meminta sehingga pasti aku berikan apa yang dia minta? Adakah hamba-Ku yang beristighfar sehingga Aku ampuni dosanya?” (HR Bukhari dan Muslim)

 

 

Tata Cara Sholat Tahajud

 

Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang Tata Cara Sholat Tahajud, kita juga perlu tau lebih dalam Apa Itu Sholat Tahajud?

Menurut NU Online, makna dari Sholat Tahajud secara bahasa berarti upaya melawan atau meninggalkan tidur. Sementara itu, dalam artian fiqih, sholat Tahajud ialah sholat sunnah pada malam hari yang dilakukan setelah tidur. Hukum Sunnah sholat Tahajud bersifat muakkad yang berarti sangat kuat. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW selalu melakukannya. jadi tata cara sholat Tahajud yang benar itu bagaimana, ya? dan, apa saja bacaan sholat Tahajud? yuk simak artikel di bawah ini,

Bagaimana Tata Cara Sholat Tahajud Yang Benar?

Berikut ini tata cara sholat Tahajud dan bacaannya:

  1. Niat Sholat Tahajud

    Pertama, baca niat sholat Tahajud dengan bacaan berikut:

    Ushallî sunnatat tahajjudi rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

    Artinya yaitu: “Aku berniat sholat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

    Atau

    Ushallii sunnata-t-tahajjudi rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’alla.

    Artinya yaitu: “Aku berniat untuk sholat sunnah Tahajud dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

  2. Takbiratul Ihram

    Mengucapkan takbir sambil mengangkat tangan.

  3. Doa Iftitah

    Membaca doa iftitah.

  4. Surah Al Fatihah

    Setelah doa iftitah, bacaan dilanjutkan dengan surah Al Fatihah.

  5. Surat dalam Al Qur’an

    Kemudian, baca salah satu surat yang ada dalam Al Qur’an.

  6. Rukuk

    Melakukan gerakan rukuk dengan bacaannya.

  7. I’tidal

    Melakukan i’tidal disertai bacaannya.

  8. Sujud

    Melakukan sujud dengan bacaannya.

  9. Duduk di antara dua sujud

    Melakukan duduk di antara dua sujud dengan bacaannya.

  10. Sujud

    Kembali sujud disertai bacaan gerakan sujud.

  11. Berdiri

    Berdiri untuk masuk ke rakaat kedua.

  12. Mengulang rakaat pertama

    Ulangi gerakan dan bacaan-bacaan gerakan rakaat pertama dari cara ke-4 hingga cara ke-10.

  13. Tahiyat akhir di rakaat kedua

    Setelah sujud, duduk tahiyat akhir pada rakaat kedua dengan bacaannya yang sama seperti bacaan sholat fardhu.

  14. Salam

    Mengakhiri sholat dengan mengucapkan salam ke arah kanan lalu ke arah kiri.

  15. Doa Setelah Tahajud

    Menurut NU Online, inilah doa setelah sholat Tahajud:

    Allâhumma rabbanâ lakal hamdu. Anta qayyimus samâwaati wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal-hamdu anta maalikus samâwâti wal-ardhi wa man fii hinna. 

    Wa lakal hamdu anta nuurussamawaati wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa‘dukal haqq. Wa liqâ’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan nâru haqq. Wan nabiyyûna haqq. 

    Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haqq. Was sâ‘atu haqq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. 

    Faghfir lii mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a‘lantu, wa mâ anta a‘lamu bihi minnî. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa laa haula, wa lâ quwwata illâ billâh.

    Arti dari bacaan sholat Tahajud tersebut yaitu:

    “Ya Allah, segala puji bagimu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk yang ada di dalamnya. Segala puji bagimu, Engkau lah penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. 

    Segala puji bagimu, Engkau lah cahaya langit, bumi, dan segala makhluk di dalamnya. Segala puji bagimu, Engkau Maha Benar. Janjimu benar. Pertemuan denganmu kelak itu benar. Firmanmu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. 

    Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar. Hari Kiamat itu benar. Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. 

    Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya, ampunilah dosaku yang lalu dan yang kemudian, baik itu dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Engkau ketahui ketimbang aku. 

    Engkau Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tidak ada daya upaya serta kekuatan selain pertolongan Allah SWT.”

 

Yuk. rajin sholat Tahajud!

 

Dzikir Sore Atau Petang Hari

DZIKIR PETANG

Ta’awudz

Dibaca 1x

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.

Sumber: Hisnul Muslim.

 Ayat Kursi

Dibaca 1x

اللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِىُّ الْعَظِيمُ﴿٢٥٥﴾

Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah [2]: 255).

Al-Ikhlas

Dibaca 3x

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ﴿٤﴾

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(1) Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.
(2) Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan.
(3) Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan.
(4) Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.
(Al-Ikhlas [112]: 1-4).

HR. Abu Dawud 4/322, At-Tirmidzi 5/567 dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/182.

“Barangsiapa membaca tiga surat tersebut (surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, ketiganya dinamakan Al-Mu’awwidzaat) sebanyak 3x setiap pagi dan sore hari, maka itu (tiga surat tersebut) cukup baginya dari segala sesuatu.” (Yaitu melindunginya dari segala bentuk bahaya dengan izin Allah).

Sumber: Hisnul Muslim.

Al-Falaq

Dibaca 3x

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴿١﴾ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ﴿٢﴾ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ ﴿٣﴾ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ ﴿٤﴾ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴿٥﴾

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(1) Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai Subuh.
(2) Dari kejahatan makhluk-Nya.
(3) Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.
(4) Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.
(5) Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.
(Al-Falaq [113]: 1-5).

An-Naas

Dibaca 3x

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١﴾ مَلِكِ النَّاسِ﴿٢﴾ إِلَـٰهِ النَّاسِ ﴿٣﴾ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤﴾ الَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥﴾ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦﴾

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
(1) Katakanlah: Aku berlindung kepada Rabb manusia.
(2) Raja manusia.
(3) Sembahan manusia.
(4) Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.
(5) Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
(6) Dari jin dan manusia.
(An-Nas [114]: 1-6).

 Dibaca 1x
أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَـٰذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَـٰذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ

Amsainaa wa amsal mulku lillaah, wal hamdulillaah, laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamd, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir. Robbi as-aluka khoiro maa fii haadzihil-lailati wa khoiro maa ba’dahaa, wa a’uudzu bika min syarri maa fii haadzihil-lailati wa syarri maa ba’dahaa, robbi a’uudzu bika minal kasali wa suu-il kibar, robbi a’uudzu bika min ‘adzaabin fin-naari wa ‘adzaabin fil qobr.

Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Hai Tuhan, aku mohon kepada-Mu kebaikan di malam ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan malam ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan, aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur.

HR. Muslim 4/2088.

 Dibaca 1x

اَللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Allaahumma bika amsainaa, wa bika ash-bahnaa, wa bika nahyaa, wa bika namuutu, wa ilaikal mashiir.

Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu sore, dan dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu tempat kembali (bagi semua makhluk).

HR. At Turmudzi 3391 dan dishahihkan Al-Albani.

 Membaca Sayyidul Istighfar (1x)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” [7]

FADILLAH
Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.

(HR. Al-Bukhari no. 6306, 6323, Ahmad IV/122-125, an-Nasa-i VIII/279-280) dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu.

Dibaca 3x

اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ

Allaahumma ‘aafinii fii badanii, allaahumma ‘aafinii fii sam’ii, allaahumma ‘aafinii fii bashorii, laa ilaaha illaa anta. Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqr, wa a’uudzu bika min ‘adzaabil qobr, laa ilaaha illaa anta.

Ya Allah, selamatkan tubuhku (dari penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.

HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42, An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 22, halaman 146, Ibnus Sunni no. 69. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menyatakan sanad hadits tersebut hasan. Lihat juga Tuhfatul Akhyar, halaman 26.

Dibaca 1x

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اَللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Allaahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fid-dunyaa wal aakhiroh, allaahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fii dinii, wa dunyaaya, wa ahlii, wa maalii, allaahummas-tur ‘aurootii, wa aamin rou’aatii, allaahummah-fazhnii min baini yadayya, wa min kholfii, wa ‘an yamiinii, wa ‘an syimaalii, wa min fauqii, wa a’uudzu bi’azhomatika an ugh-taala min tahtii.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf (ampunan) dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf (ampunan) dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aurat badan, cacat, aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ulat, tenggelam atau ditelan bumi dan lain-lain).

 Dibaca 1×

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allaahumma ‘aalimal ghoibi wasy-syahaadati, faathiros-samaawaati wal ardh, robba kulli syai-in wa maliikahu, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, a’uudzu bika min syarri nafsii, wa min syarrisy-syaithooni wa syirkih, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an, au ajurrohu ilaa muslim.

Ya Allah, yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya, dan aku (berlindung kepadaMu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau mendorongnya kepada seorang muslim.

HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Lihat kitab Shahih At-Tirmidzi 3/142.

Dibaca 3x

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Bismillaahil-ladzii laa yadhurru ma’as-mihi syai-un, fil ardhi wa laa fis-samaa’, wa huwas-samii’ul ‘aliim.

Dengan nama Allah, yang tidak akan berbahaya dengan namaNya, segala sesuatu di bumi dan langit, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

HR. Abu Dawud 4/323, At-Tirmidzi 5/465, Ibnu Majah dan Ahmad. Lihat Shahih Ibnu Majah 2/332, Al-Allamah Ibnu Baaz berpendapat, isnad hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar hal. 39.

Dibaca 3x

رَضِيْتُ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Rodhiitu billaahi robbaa, wa bil islaami diinaa, wa bimuhammadin shollallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyyaa.

Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabiku (yang diutus oleh Allah).

HR. Ahmad 4/337, An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 4 dan Ibnus Sunni no. 68. Abu Daud 4/418, At-Tirmidzi 5/465 dan Ibnu Baaz berpendapat, hadits tersebut hasan dalam Tuhfatul Akhyar hal. 39.

 Dibaca 1x

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Yaa hayyu yaa qoyyuum, birohmatika astaghiits, ashlih lii sya’nii kullah, wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain.

Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, wahai Tuhan Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan Kau serahkan kepadaku meskipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).

HR. An-Nasa’i dalam Sunan al-Kubro, Al-Hakim dalam al-Mustadzrak, Al-Baihaqi dalam Asma wa shifat dan dishahihkan Al Albani dalam Silsilah as-Shahihah no. 227).

 Dibaca 1x

أَمْسَيْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Amsainaa ‘alaa fithrotil islaam, wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa muhammadin shollallaahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiinaa ibroohiim, haniifan musliman wa maa kaana minal musyrikiin.

Di waktu sore kami berada di atas fitrah Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad, dan agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.

HR. Ahmad 3/406-407, 5/123. Lihat juga Shahihul Jami’ 4/290. Ibnus Sunni juga meriwayatkannya di ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 34.

 Dibaca 10x atau 1x. Atau dibaca 100x -pagi-

لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamd, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir.

Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

[1] HR. Abu Dawud 4/319, Ibnu Majah dan Ahmad 4/60. Lihat Shahih At-Targhib wat Tarhib 1/270, Shahih Abu Dawud 3/957, Shahih Ibnu Majah 2/331 dan Zadul Ma’ad 2/377.
[2] HR. Al-Bukhari 4/95 dan Muslim 4/2071.

 Dibaca 100x

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

Subhaanallaahi wa bihamdih.

Maha Suci Allah, aku memujiNya.

Keutamaan:
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca: (dzikir di atas) 100x, maka tidak ada seorangpun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim 2692).

Dzikir ini juga dianjurkan untuk dibaca setiap hari 100x berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang membaca: (dzikir di atas) 100x dalam sehari, maka akan dihapuskan dosa-dosanya, meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari 6405 dan Muslim 484).

 Dibaca 100x pagi -atau- sore

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullaaha wa atuubu ilaih.

Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya.

HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 11/101 dan Muslim 4/2075.

Dibaca 3x

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

A’uudzu bi kalimaatillaahit-taammaati min syarri maa khalaq.

Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan makhluk yang diciptakanNya.

HR. Ahmad 2/290, An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, no. 590 dan Ibnu Sunni no. 68. Lihat Shahih At-Tirmidzi 3/187, Shahih Ibnu Majah 2/266 dan Tuhfatul Akhyar, hal. 45.

Dipublikasikan ulang oleh
Www.Enbigi.com

BACAAN DZIKIR PAGI


➡ BACAAN DZIKIR PAGI

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

A’uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”

➡ 1. Membaca Ayat Kursi (1x)

اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِ ذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ ۚ وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

AYAT KURSI

allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa’u ‘indahū illā bi`iżnih, ya’lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min ‘ilmihī illā bimā syā`, wasi’a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-‘aliyyul-‘aẓīm.

“Allah tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang (berada) dihadapan mereka, dan dibelakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari Ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Baqarah: 255) [1]

➡ 2. Membaca Surat Al-Ikhlas (3x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah, Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah (Rabb) yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”
[2]

➡ Membaca Surat Al-Falaq (Dibaca Pagi dan Sore 3x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai (waktu) Shubuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Serta dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”‘ (QS. Al-Falaq: 1-5). (Dibaca pagi dan sore 3x). [3]

➡ 4. Membaca Surat An-Naas (3x)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (Ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada-dada manusia. Dari golongan jin dan manusia.”
[4]

➡ 5. Membaca (1x) :

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهُ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبَرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ.

Ash-bahnaa wa ash-bahal mulku lillah walhamdulillah, laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodir. Robbi as-aluka khoiro maa fii hadzal yaum wa khoiro maa ba’dahu, wa a’udzu bika min syarri maa fii hadzal yaum wa syarri maa ba’dahu. Robbi a’udzu bika minal kasali wa su-il kibar. Robbi a’udzu bika min ‘adzabin fin naari wa ‘adzabin fil qobri.

“Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di Neraka dan siksaan di kubur.” [5]

➡ 6. Membaca (1x) :

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ

Allahumma bika ash-bahnaa wa bika amsaynaa wa bika nahyaa wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.

“Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).” [6]

➡ 7. Membaca Sayyidul Istighfar (1x)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa u laka abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.

“Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Engkau, Engkau-lah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan (apa) yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu (yang diberikan) kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau.” [7]

➡ 8. Membaca (3x) :

اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ،
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

ALLAHUMMA ‘AFINI FII BADANII, ALLAHUMMA ‘AFINI FII SAM’II, ALLAHUMMA ‘AFINII FII BASHARII, LAA ILAAHA ILLA ANTA ALLAHUMMA INNII A’UDZU BIKA MINAL KUFRI WAL FAQRI, ALLAHUMMA INNII A’UDZUBIKA MIN ‘ADZABIL QABRI, LAA ILAAHA ILLA ANTA

“Ya Allah, selamatkanlah tubuhku (dari penyakit dan dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau dari apa yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkanlah penglihatanku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.” [8]

➡ 9. Membaca (1x) :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fid dunyaa wal aakhiroh. Allahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyah fii diinii wa dun-yaya wa ahlii wa maalii. Allahumas-tur ‘awrootii wa aamin row’aatii. Allahumah fadni min bayni yadayya wa min kholfii wa ‘an yamiinii wa ‘an syimaalii wa min fawqii wa a’udzu bi ‘azhomatik an ughtala min tahtii.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tentramkan-lah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).” [9]

➡ 10. Membaca (1x) :

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.

“Ya Allah Yang Mahamengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan ajakannya menyekutukan Allah (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.” [10]

➡ 11. Membaca (3x) :

بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai-un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.

“Dengan Menyebut Nama Allah, yang dengan Nama-Nya tidak ada satupun yang membahayakan, baik di bumi maupun dilangit. Dia-lah Yang Mahamendengar dan Maha mengetahui.” [11]

➡ 12. Membaca (3x) :

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

Rodhiitu billaahi robbaa wa bil-islaami diinaa, wa bi-muhammadin shallallaahu ‘alaihi wa sallama nabiyya.

“Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb-ku (untukku dan orang lain), Islam sebagai agamaku dan Muhammad صلي الله عليه وسلم sebagai Nabiku (yang diutus oleh Allah).” [12]

➡ 13. Membaca (1x) :

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Yaa Hayyu Yaa Qoyyum, bi-rohmatika as-taghiits, wa ash-lih lii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin

“Wahai Rabb Yang Mahahidup, Wahai Rabb Yang Mahaberdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku dan jangan Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekalipun (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” [13]

➡ 14. Membaca (1x) :

أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْرَاهِيْمَ، حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Ash-bahnaa ‘ala fithrotil islaam wa ‘alaa kalimatil ikhlaash, wa ‘alaa diini nabiyyinaa Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam, wa ‘alaa millati abiina Ibraahiima haniifam muslimaaw wa maa kaana minal musyrikin

“Di waktu pagi kami berada diatas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad صلي الله عليه وسلم dan agama ayah kami, Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.” [14]

➡ 15. Membaca (1x atau 10x atau 100x) :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ.

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

“Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
[15],[16],[17]

➡ 16. Membaca (3x) :

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Subhanallah wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsih. wa zinata ‘arsyih, wa midaada kalimaatih.

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, Mahasuci Allah sesuai ke-ridhaan-Nya, Mahasuci seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan Mahasuci sebanyak tinta (yang menulis) kalimat-Nya.” [18]

➡ 17. Membaca (1x) :

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyibaa, wa ‘amalan mutaqobbalaa.

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amalan yang diterima.” [19]

➡ 18. Membaca (100x) :

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

Subhanallah wa bi-hamdih.

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya.” [20]

➡ 19. Membaca (100x pagi atau sore) :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astagh-firullah wa atuubu ilaih.

“Aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” [21]

 

Copyright © 2026 enbigi.com