Benarkah Gunung Kawi Tempat Pesugihan? Fakta, Sejarah, dan Mitos yang Perlu Diketahui

Benarkah Gunung Kawi Menjadi Tempat Pesugihan?

Nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, sudah lama dikenal masyarakat sebagai salah satu lokasi yang sering dikaitkan dengan praktik pesugihan. Berbagai cerita tentang orang yang datang untuk mencari kekayaan secara instan, ritual mistis, hingga kisah tumbal telah beredar dari mulut ke mulut selama puluhan tahun.

Namun, benarkah Gunung Kawi memang merupakan tempat pesugihan?

Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Hingga saat ini tidak ada bukti yang dapat membenarkan secara objektif bahwa Gunung Kawi benar-benar menjadi tempat memperoleh kekayaan melalui kekuatan gaib. Yang ada adalah perpaduan antara sejarah, tradisi ziarah, kepercayaan sebagian masyarakat, dan mitos yang berkembang dari generasi ke generasi.

Sejarah Gunung Kawi

Kawasan yang sering disebut “Gunung Kawi” oleh masyarakat sebenarnya merujuk pada Pesarean Gunung Kawi, yaitu kompleks makam dua tokoh yang sangat dihormati:

  • Eyang Djoego (Kiai Zakaria II)

  • Raden Mas Iman Soedjono

Keduanya dikenal sebagai tokoh yang memiliki jasa dalam menyebarkan ajaran agama serta membantu masyarakat pada masanya. Karena jasa dan ketokohannya, banyak orang datang untuk berziarah dan mendoakan mereka. 

Mengapa Gunung Kawi Identik dengan Pesugihan?

Citra Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan muncul karena beberapa faktor, di antaranya:

1. Banyaknya Peziarah yang Memiliki Beragam Tujuan

Tidak semua orang datang untuk tujuan yang sama. Sebagian besar peziarah datang untuk:

  • Berdoa kepada Allah SWT.

  • Mengenang jasa para tokoh yang dimakamkan.

  • Memohon keberkahan dalam usaha dan kehidupan.

Namun, ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa tempat tersebut memiliki kekuatan supranatural untuk mendatangkan kekayaan. Keyakinan inilah yang kemudian memunculkan berbagai cerita mistis.

2. Mitos Pohon Dewandaru

Di kawasan makam terdapat Pohon Dewandaru yang sangat terkenal.

Masyarakat percaya bahwa apabila seseorang mendapatkan daun atau buah yang jatuh dari pohon tersebut, maka orang itu akan memperoleh keberuntungan atau rezeki.

Perlu dipahami bahwa kepercayaan ini merupakan bagian dari tradisi dan mitos masyarakat, bukan fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

3. Cerita dari Mulut ke Mulut

Berbagai kisah mengenai pesugihan di Gunung Kawi lebih banyak berasal dari cerita rakyat, pengalaman pribadi, film, maupun media populer. Cerita-cerita tersebut berkembang luas sehingga membentuk citra mistis Gunung Kawi hingga sekarang.

Apakah Ada Ritual Pesugihan?

Beberapa pengunjung memang melakukan ritual sesuai kepercayaan masing-masing, seperti semedi atau tirakat.

Namun, pengelola kawasan Pesarean Gunung Kawi menegaskan bahwa tempat tersebut pada hakikatnya adalah lokasi ziarah kepada Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono, bukan tempat untuk meminta kekayaan melalui praktik gaib. Mereka menjelaskan bahwa peziarah seharusnya memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan kepada makam.

Pandangan Islam tentang Pesugihan

Dalam ajaran Islam, mencari kekayaan melalui bantuan makhluk gaib, melakukan perjanjian dengan jin, ataupun ritual yang mengandung unsur syirik merupakan perbuatan yang dilarang.

Islam mengajarkan bahwa rezeki berasal dari Allah SWT dan harus diperoleh melalui cara-cara yang halal, seperti bekerja, berdagang, berusaha, dan berdoa.

Karena itu, jika ada praktik yang mengandung unsur meminta kepada selain Allah, maka hal tersebut bertentangan dengan akidah Islam.

Gunung Kawi Saat Ini

Kini Gunung Kawi lebih dikenal sebagai destinasi wisata religi dan budaya. Ribuan pengunjung datang setiap tahun untuk berziarah, menikmati suasana pegunungan, serta melihat keberagaman budaya yang hidup berdampingan di kawasan tersebut, termasuk keberadaan tempat ibadah dari berbagai agama dan etnis.

Kesimpulan

Benarkah Gunung Kawi merupakan tempat pesugihan?

Jawabannya bergantung pada sudut pandang masing-masing. Secara historis, Gunung Kawi adalah kawasan makam tokoh yang dihormati dan menjadi tujuan wisata religi. Sementara anggapan bahwa Gunung Kawi merupakan tempat pesugihan berasal dari mitos dan kepercayaan sebagian masyarakat yang berkembang sejak lama, bukan fakta yang telah terbukti.

Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya menyikapi berbagai cerita tentang Gunung Kawi secara bijaksana, membedakan antara nilai sejarah, tradisi budaya, dan kepercayaan yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.(enbigi.com/echoe)

Mengapa Imam Tidak Mengeraskan Bacaan Al-Fatihah pada Shalat Zuhur dan Ashar? Ini Penjelasannya

 

Shalat berjamaah memiliki tata cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, termasuk dalam cara membaca Surah Al-Fatihah dan surat setelahnya. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa imam tidak mengeraskan bacaan Al-Fatihah pada shalat Zuhur dan Ashar, sedangkan pada shalat Subuh, Maghrib, dan Isya bacaan tersebut terdengar jelas?

Jawabannya tidak terletak pada perbedaan isi bacaan, melainkan karena mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ yang membedakan antara shalat jahr (bacaan dikeraskan) dan shalat sirr (bacaan dipelankan).

Shalat Jahar dan Shalat Sirr

Dalam Islam, shalat fardu dibagi menjadi dua cara membaca bacaan Al-Qur’an:

Shalat Jahar (bacaan dikeraskan):

  • Shalat Subuh (2 rakaat)

  • Shalat Maghrib (2 rakaat pertama)

  • Shalat Isya (2 rakaat pertama)

Pada shalat ini, imam dianjurkan mengeraskan bacaan Al-Fatihah dan surat setelahnya agar dapat didengar oleh makmum.

Shalat Sirr (bacaan dipelankan):

  • Shalat Zuhur

  • Shalat Ashar

  • Rakaat ketiga Maghrib

  • Rakaat ketiga dan keempat Isya

Pada shalat sirr, imam tetap membaca Al-Fatihah dan surat Al-Qur’an, tetapi dengan suara yang pelan sehingga tidak terdengar oleh makmum.

Dalil dari Sunnah Rasulullah ﷺ

Cara membaca bacaan shalat ini bukanlah hasil ijtihad para ulama, melainkan berdasarkan praktik langsung Rasulullah ﷺ.

Beliau bersabda:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini menjadi dasar bahwa tata cara shalat harus mengikuti contoh Rasulullah ﷺ, termasuk kapan bacaan dikeraskan dan kapan dipelankan.

Selain itu, para sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ membaca pelan pada shalat Zuhur dan Ashar. Meskipun suara beliau tidak terdengar, para sahabat mengetahui bacaan beliau dari gerakan bibir dan terkadang beliau memperdengarkan sebagian ayat.

Mengapa Zuhur dan Ashar Dibaca Pelan?

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah di balik ketentuan tersebut, di antaranya:

1. Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ

Alasan utama adalah karena itulah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Seorang muslim diperintahkan untuk mengikuti tata cara ibadah sebagaimana yang telah beliau ajarkan.

2. Menunjukkan Ketaatan kepada Allah

Tidak semua tata cara ibadah harus diketahui hikmah secara rinci. Seorang muslim tetap melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

3. Memberikan Kekhusyukan

Shalat Zuhur dan Ashar dilaksanakan pada waktu siang ketika aktivitas manusia sedang berlangsung. Bacaan yang dipelankan membantu menjaga kekhusyukan tanpa mengganggu orang lain yang sedang beraktivitas.

4. Variasi dalam Ibadah

Islam mengajarkan variasi dalam beberapa bentuk ibadah agar umat tidak merasa monoton serta lebih memperhatikan setiap tata cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Apakah Makmum Tetap Membaca Al-Fatihah?

Masalah ini termasuk pembahasan fikih yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Sebagian ulama berpendapat bahwa makmum tetap membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, baik pada shalat jahr maupun sirr.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa pada shalat jahr makmum cukup mendengarkan bacaan imam, sedangkan pada shalat sirr makmum membaca Al-Fatihah sendiri.

Perbedaan ini merupakan khazanah keilmuan Islam yang memiliki landasan dalil masing-masing, sehingga hendaknya disikapi dengan saling menghormati.

Bolehkah Imam Mengeraskan Bacaan Zuhur dan Ashar?

Hukum asalnya, imam disunnahkan membaca pelan pada shalat Zuhur dan Ashar.

Namun, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ sesekali memperdengarkan sebagian ayat kepada para sahabat. Hal ini bukan untuk mengubah tata cara shalat menjadi jahr, melainkan agar para sahabat mengetahui bacaan yang sedang dibaca beliau.

Karena itu, kebiasaan mengeraskan seluruh bacaan Al-Fatihah dan surat dalam shalat Zuhur atau Ashar tidak sesuai dengan tuntunan sunnah.

Kesimpulan

Imam tidak mengeraskan bacaan Al-Fatihah pada shalat Zuhur dan Ashar karena mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Kedua shalat tersebut termasuk shalat sirr, yaitu shalat yang bacaan Al-Qur’annya dipelankan. Sementara itu, shalat Subuh, dua rakaat pertama Maghrib, dan dua rakaat pertama Isya termasuk shalat jahr, yaitu bacaan yang dikeraskan.

Sebagai umat Islam, sikap terbaik adalah meneladani tata cara shalat yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ. Dengan memahami dalil dan hikmah di balik setiap ketentuan ibadah, diharapkan kualitas shalat menjadi semakin baik, khusyuk, dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Sumber:islam.com

Surat Al-Baqarah, Tentang Sapi Betina Di Zaman Nabi Musa

📖 Kisah Sapi (Al-Baqarah) – Ayat 67–73

🔹 Konteks Kisah

Kisah ini menceritakan tentang Bani Israil (kaum Nabi Musa) yang diminta oleh Allah untuk menyembelih seekor sapi, tapi mereka berdebat, merumitkan perintah, dan menunjukkan sikap keras kepala dan kurang taat.

📌 Ayat 67

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.’ Mereka berkata: ‘Apakah kamu hendak menjadikan kami sebagai olok-olokan?’ Musa menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.'”

Tafsir:
Allah memerintahkan mereka menyembelih sapi, tapi mereka malah mengejek seolah Musa sedang bercanda. Ini menunjukkan ketidaktaatan dan sikap meremehkan perintah Allah.

📌 Ayat 68–71

Mereka mulai berdebat panjang tentang ciri-ciri sapi:

  • Ayat 68: “Tolong jelaskan, seperti apa sapinya?”

  • Ayat 69: “Warna apa?”

  • Ayat 70: “Jenis apa? Usia berapa?”

Tafsir:
Mereka bukannya langsung taat, malah terus menunda-nunda dan memperumit perintah Allah dengan banyak bertanya. Semakin banyak bertanya, Allah pun memberikan syarat yang semakin spesifik.

Akhirnya mereka berkata:

“Sekarang engkau baru membawa kebenaran…”

Lalu mereka menyembelih sapi itu, tapi dengan enggan.

📌 Ayat 72–73: Misteri Pembunuhan

Ada seorang lelaki Bani Israil yang terbunuh, dan mereka bingung siapa pelakunya.

Allah perintahkan:

“Pukullah mayat itu dengan bagian dari sapi yang disembelih.”

Dan ketika dilakukan, orang yang mati itu hidup kembali sejenak dan menyebutkan siapa pembunuhnya, lalu mati kembali.

Tafsir:
Ini adalah mukjizat untuk mengungkap kebenaran dan memperlihatkan kuasa Allah yang bisa menghidupkan orang mati.

🧠 Hikmah dari Kisah Sapi Ini

  1. Taatlah kepada perintah Allah tanpa membantah

    • Semakin kita berdebat dengan wahyu, bisa makin sulit urusannya.

  2. Jangan suka memperumit agama

    • Islam itu sederhana. Jangan menunda atau memperberat perintah Allah tanpa alasan.

  3. Keajaiban bisa terjadi bila kita taat

    • Mukjizat terjadi sebagai bukti kekuasaan Allah.

  4. Sikap keras kepala adalah ciri orang yang tidak bersyukur

    • Ini pelajaran agar tidak meniru sikap Bani Israil.

🌟 Penutup

Itulah kisah sapi (Al-Baqarah) yang jadi nama surat ini. Meski terlihat sederhana, kisah ini punya pelajaran akidah dan ketaatan yang sangat dalam.

Kalau kamu mau, aku juga bisa bantu:

  • Tafsir ayat 67–73 satu per satu

  • Menyambungkan kisah ini dengan konteks zaman sekarang

  • Atau bahas kisah Bani Israil lainnya di surat ini

Kamu tertarik lanjut ke bagian mana?

Berikut Ini Ringkasan isi kandungan surah Al-Baqarah

 

Surat Al-Baqarah adalah surat ke-2 dalam Al-Qur’an, termasuk golongan surat Madaniyah (diturunkan di Madinah), dan merupakan surat terpanjang dalam Al-Qur’an dengan 286 ayat. Isi dari surat Al-Baqarah sangat luas dan mencakup berbagai tema penting dalam Islam. Berikut adalah ringkasan isi pokoknya:

🕌 1. Keimanan dan Petunjuk Al-Qur’an

  • Awal surat menekankan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa (ayat 1–5).

  • Ciri-ciri orang beriman, kafir, dan munafik dijelaskan dengan jelas.

🧎‍♂️ 2. Seruan untuk Beriman dan Patuh kepada Allah

  • Seruan kepada Bani Israil untuk mengingat nikmat Allah dan taat kepada-Nya (ayat 40–121).

  • Banyak kisah tentang ketidaktaatan mereka sebagai pelajaran bagi umat Islam.

📜 3. Kisah-Kisah Umat Terdahulu

  • Kisah Nabi Musa dan Bani Israil.

  • Kisah penyembelihan sapi (al-Baqarah), yang menjadi nama surat ini.

  • Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah.

🧭 4. Perubahan Kiblat dan Ujian Ketaatan

  • Perintah untuk mengubah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah (ayat 142–150).

  • Ujian bagi kaum Muslimin untuk tetap taat kepada Allah.

📚 5. Hukum-Hukum Syariat

Surat ini juga dikenal sebagai “Surat Ahkam” karena banyaknya hukum Islam yang dibahas, seperti:

  • Hukum puasa di bulan Ramadan.

  • Hukum qisas (balasan yang setimpal dalam hukum pidana).

  • Hukum warisan.

  • Hukum jual beli dan riba.

  • Hukum pernikahan dan perceraian.

  • Larangan memakan riba, dan anjuran sedekah.

💰 6. Ekonomi dan Etika Keuangan

  • Penekanan pada keadilan dalam perdagangan.

  • Larangan keras terhadap riba.

  • Anjuran memberi pinjaman kepada Allah (infaq di jalan Allah).

🌙 7. Ibadah dan Kehidupan Sosial

  • Kewajiban puasa Ramadan.

  • Anjuran tolong-menolong dalam kebaikan.

  • Larangan menyembunyikan kebenaran.

🤲 8. Doa dan Penutup

Surat ini diakhiri dengan doa yang sangat indah dan penuh makna (ayat 285–286), termasuk:

“رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا…”
(“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah…”)

Kesimpulan:

Surat Al-Baqarah adalah pedoman menyeluruh tentang:

  • Akidah (keimanan),

  • Syariat (hukum),

  • Akhlak,

  • Sejarah umat terdahulu sebagai pelajaran,

  • Dan prinsip-prinsip hidup dalam masyarakat Islam.

 

Surat Al Kahfi Tentang Menceritakan Tentang Apa?

Surat Al-Kahfi adalah surat ke-18 dalam Al-Quran yang berisi beberapa kisah utama dan pelajaran penting bagi umat Islam. Surat ini dinamai “Al-Kahfi” yang berarti “gua,” merujuk kepada kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua), yaitu sekelompok pemuda beriman yang melarikan diri dari penindasan dan bersembunyi di sebuah gua, kemudian tertidur selama ratusan tahun sebagai tanda kebesaran Allah. Kisah ini mengajarkan tentang kekuatan iman, perlindungan Tuhan, dan kehidupan setelah kematian.

Selain kisah Ashabul Kahfi, surat ini juga menceritakan:

  • Kisah dua orang dengan kebun yang berbeda sikap terhadap nikmat Allah, mengajarkan pentingnya bersyukur dan bahaya kesombongan.

  • Pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidr, yang mengandung pelajaran tentang kesabaran dan kebijaksanaan Allah dalam setiap peristiwa.

  • Kisah Dzulqarnain yang membangun bendungan untuk menghalangi Ya’juj dan Ma’juj sebagai penggambaran kekuasaan Allah di dunia.

  • Adanya ancaman bagi orang kafir dan janji balasan bagi orang beriman.

  • Penekanan pada pentingnya iman, ilmu, harta, dan kekuasaan yang harus digunakan sesuai dengan tuntunan Allah.

Surat Al-Kahfi juga memiliki keutamaan dibaca setiap hari Jumat sebagai pelindung dari fitnah Dajjal dan untuk mendapatkan cahaya di antara dua Jumat. Bacaan sepuluh ayat pertama surat ini dipercaya dapat memberikan perlindungan khusus.

Kesimpulannya, Surat Al-Kahfi mengandung kisah-kisah yang memberikan pembelajaran tentang iman, kesabaran, hikmah, dan keadilan Tuhan serta perlindungan dari fitnah duniawi dan akhirat.

Mengapa Islam Melarang Makan Daging Babi

Mengapa Islam Melarang Makan Daging Babi?

Dalam ajaran Islam, makanan yang dikonsumsi oleh umatnya bukan hanya soal kebutuhan fisik, tetapi juga bagian dari ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu larangan paling dikenal adalah larangan mengonsumsi daging babi. Larangan ini bukan tanpa alasan, dan berikut penjelasan dari beberapa sudut pandang: agama, kesehatan, dan spiritualitas.

1. Perintah Langsung dari Allah dalam Al-Qur’an

Larangan makan daging babi disebutkan secara eksplisit dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Salah satunya dalam Surah Al-Baqarah ayat 173:

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah…” (QS. Al-Baqarah: 173)

Ayat serupa juga terdapat dalam Surah Al-Ma’idah: 3, Al-An’am: 145, dan An-Nahl: 115. Dalam Islam, hukum halal dan haram bukan hanya dilihat dari dampaknya, tetapi yang utama adalah ketaatan kepada perintah Allah SWT.

2. Pertimbangan Kesehatan

Beberapa penelitian modern menemukan bahwa daging babi memiliki risiko kesehatan tertentu, terutama jika tidak dimasak dengan benar:

  • Cacing pita (Taenia solium) dan parasit lain seperti Trichinella spiralis bisa hidup dalam tubuh babi dan menular ke manusia melalui daging yang kurang matang.

  • Babi adalah hewan omnivora yang memakan apa saja, termasuk kotorannya sendiri, sehingga lebih rentan membawa penyakit.

  • Kandungan lemak dalam daging babi relatif tinggi, terutama lemak jenuh, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi berlebihan.

Walaupun teknologi kini telah berkembang untuk meminimalkan risiko tersebut, prinsip Islam tetap mengedepankan kebersihan dan kesucian lahir batin.

3. Kebersihan dan Kesucian dalam Islam

Islam sangat menekankan konsep thayyib—yang tidak hanya halal, tapi juga baik, bersih, dan bermanfaat. Babi dalam banyak budaya dan sejarah dianggap sebagai hewan yang najis karena sifat dan lingkungan hidupnya. Dalam Islam, bukan hanya daging babi yang haram, tetapi seluruh bagian tubuhnya termasuk lemak dan produknya, kecuali dalam kondisi darurat.

4. Ketaatan sebagai Bentuk Ibadah

Meskipun seseorang mungkin tidak melihat langsung dampak negatif dari memakan daging babi, umat Islam diajarkan untuk tunduk pada perintah Allah tanpa harus menunggu alasan logis. Ketaatan inilah yang membedakan orang beriman.

Kesimpulan

Larangan makan daging babi dalam Islam adalah bagian dari sistem nilai yang melibatkan ketaatan, kebersihan, dan perlindungan terhadap kesehatan. Baik dari sisi spiritual maupun ilmiah, larangan ini membawa hikmah yang besar bagi umat manusia. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperhatikan aspek kehidupan sehari-hari, termasuk apa yang dikonsumsi.

“Apa yang dilarang oleh Allah pasti mengandung mudharat, meskipun terkadang manusia belum menyadarinya.”

Jika Anda ingin artikel ini dalam bentuk yang lebih singkat, atau dengan tambahan kutipan dari hadits dan ulama, saya bisa bantu menyesuaikan.

Ini Sebab Bacaan Alfatekhah Dhuhur Dan Ashar Tidak Dikeraskan

Pembacaan Al-Fatihah dalam sholat Duhur dan Ashar tidak dikeraskan karena kedua sholat tersebut merupakan sholat yang dilakukan secara sirri (pelan), yang di dalamnya pembacaan Al-Fatihah dan bacaan lainnya dilakukan dengan suara pelan, bukan dengan suara keras.

 

Hal ini sesuai dengan petunjuk dalam hadis dan tata cara sholat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pembacaan dengan suara keras umumnya dilakukan dalam sholat Maghrib, Isya, dan Subuh, yang merupakan sholat yang dilakukan pada waktu malam atau pagi, di mana umat Muslim diminta untuk membaca dengan suara keras agar bisa terdengar oleh orang lain yang sedang beribadah atau yang berada di sekitar.

Pada sholat Duhur dan Ashar, yang dilakukan pada siang hari, suara yang lebih pelan atau tidak dikeraskan lebih dianjurkan agar lebih khusyuk, selain itu juga tidak mengganggu orang lain yang mungkin sedang beribadah di sekitarnya. Pembacaan Al-Fatihah tetap menjadi bagian yang sangat penting dalam sholat, meskipun dilakukan dengan suara pelan.

Hingga Allah SWT menurunkan Firmannya yang tertera dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra Ayat 110,

قُلِ ٱدْعُوا۟ ٱللَّهَ أَوِ ٱدْعُوا۟ ٱلرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا۟ فَلَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَٱبْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Artinya: “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.

Tafsir dan penyebab turunnya ayat tersebut adalah ketika Rasulullah SAW berada di Mekkah. Saat itu, beliau tengah melaksanakan Sholat berjamaah bersama para sahabat dengan mengeraskan bacaan surat.

Kaum musyrikin Mekkah mendengarnya, lalu mencaci bacaan Rasulullah tersebut, mencaci Dzat yang menurunkannya dan mencaci pula yang menyampaikannya (Rasulullah). Karena itulah Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu” sehingga potongan ayat tersebut bermaksud agar orang musyrik tidak mendengar bacaannya.

Tetapi Allah juga menyampaikan, “dan jangan pula merendahkannya” sehingga bacaan sholat masih tetap terdengar oleh sahabat yang berada pada shaff pertama. Oleh karenanya, Allah melanjutkan dengan “dan carilah jalan tengah antara keduanya.”

Apasih Perbedaan Antara Shalat Tarawih 23 Rakaat dan 11 Rakaat

Sholat tarawih merupakan salah satu amalan yang dianjurkan untuk dilaksanakan pada saat bulan Ramadan. ibadah yang hukumnya sunnah muakkadah atau sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena memiliki banyak keutamaan. Akan tetapi masih ada kebingungan apakah sholat tarawih 11 atau 23 rakaat dan apa sih yang mendasari perbedaan tersebut.

Yang Perlu diketahui sebelumnya bahwa sholat di malam hari saat bulan Ramadhan kerap dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW pada masa hidupnya. Akan tetapi pada waktu itu Rasulullah tidak menyebut sholat tersebut dengan nama atau istilah ‘sholat tarawih’.

Apasih Perbedaan Antara Shalat Tarawih 23 Rakaat dan 11 Rakaat

Bukan hanya itu, untuk jumlah rakaatnya juga tak pernah dijelaskan secara gamblang oleh Rasulullah SAW. Walaupun demikian, terdapat sebuah hadits dari Aisyah r.a. yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan sholat Tarawih 8 rakaat dan dilanjutkan Witir 3 rakaat. Aisyah berkata,“Beliau tak menambah pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat: shalat empat rakaat, yang betapa bagus dan lama, kemudian tiga rakaat. Aku pun pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum menunaikan shalat witir?” Beliau menjawab, “Mataku tidur, tapi hatiku tidak.” Hadits itulah yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan shalat Tarawih 11 rakaat (8 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir). Aisyah juga menjelaskan bahwa pelaksanakan 8 rakaat tarawih yakni 4 rakaat, 4 rakaat, dan diakhiri dengan 3 rakaat witir. Sementara itu, pengerjaan sholat tarawih 8 rakaat juga bisa dilaksanakan dengan masing-masing 2 rakaat 1 salam.

Di sisi lain, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Dawud azh Zhahiri memilih untuk mengerjakan Tarawih dengan 20 rakaat. Pemilihan itu didasarkan pada perilaku sahabat, dimana orang-orang pada masa Umar bin Khattab mengerjakan shalat Tarawih dengan 20 rakaat dan dilanjut melaksanakan shalat Witir 3 rakaat. Dasar itulah yang kemudian menjadi rujukan pelaksanaan sholat Tarawih 23 rakaat. Perihal mana yang lebih utama dari keduanya, belum ada satu pun dalil yang menjelaskan mengenai hal tersebut, sehingga salah satunya tidak bisa disebut lebih utama dari yang lainnya. Wallahu a’lam bish shawab. Itulah perbedaan shalat Tarawih 23 rakaat dan 11 rakaat.

Demikian informasi seputar jumlah rakaat sholat tarawih di bulan Ramadan. Oleh sebab itu umat Islam boleh melaksanakan sholat tarawih 11 rakaat maupun 23 rakaat karena keduanya sama-sama memiliki landasan dan wajib untuk dihargai.

Sumber:Beritaislam.com

Waktu Sholat Tahajud Terbaik Dilakukan

Sholat tahajud merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Karena, Sholat Tahajud tersebut mengandung banyak sekali keutamaan.

Dalam Tafsir Al Mishbah susunan M Quraish Shihab, Al-Biqa’i mengartikan tahajud sebagai meninggalkan tidur dan menunaikan sholat. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai keutamaan sholat tahajud dalam hadits riwayat Tirmidzi dan Ahmad.

“Kerjakanlah sholat malam, karena sholat malam adalah kebiasaan orang-orang soleh sebelum kalian, juga sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Tuhan kalian, sebagai penebus dosa, mencegah dosa, dan juga dapat menghindarkan penyakit dari tubuh.” (HR Imam Tirmidzi & Ahmad)

Lalu kapan waktu terbaik mengerjakan sholat tahajud?
Waktu Terbaik Mengerjakan Sholat Tahajud

Sholat tahajud umumnya dilaksanakan pada malam hari dan sering disebut sebagai sholat malam. Menukil dari buku Kajian Fikih dalam Bingkai Aswaja susunan Ahmad Hawassy, setidaknya ada tiga pembagian waktu sholat tahajud yang dinilai paling baik.

Waktu yang sangat utama adalah pada sepertiga malam pertama, yaitu dimulai sejak setelah waktu Isya sampai pukul 22.00. Sementara itu, waktu yang lebih utama ialah sepertiga malam kedua pada pukul 22.00 sampai 01.00 dini hari.

Lalu, waktu paling utama adalah sepertiga malam terakhir yang dimulai pada 01.00 dini hari hingga waktu Subuh. Nabi Muhammad SAW sendiri Ketika melakukan tahajud pada sepertiga malam terakhir, hal ini sesuai dengan riwayat Abu Muslim yang bertanya pada Abu Dzar, “Pada waktu manakah yang lebih utama untuk kita mengerjakan sholat malam?”

Abu Dzar menjawab, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.”

Nabi SAW bersabda, “Perut malam yang masih tinggal adalah sepertiga malam yang terakhir. Sayang tidak banyak orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Jam Sholat Tahajud adalah Waktu Mustajab untuk Berdoa

Dalam buku Keajaiban Tahajud, Subuh dan Dhuha untuk Hidup Berkah, Bergelimang Harta, Sukses dan Bahagia oleh Ferry Taufiq El Jaquene dikatakan bahwa Allah SWT telah berjanji akan mengabulkan harapan seseorang di waktu sholat tahajud. Dalam sebuah riwayat. Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap malam Allah SWT turun ke langit dunia sampai tersisa sepertiga malam yang terakhir. Ia (Allah) pun berkata, ‘Adakah hamba-Ku yang meminta sehingga pasti aku berikan apa yang dia minta? Adakah hamba-Ku yang beristighfar sehingga Aku ampuni dosanya?” (HR Bukhari dan Muslim)

 

 

Tata Cara Sholat Tahajud

 

Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang Tata Cara Sholat Tahajud, kita juga perlu tau lebih dalam Apa Itu Sholat Tahajud?

Menurut NU Online, makna dari Sholat Tahajud secara bahasa berarti upaya melawan atau meninggalkan tidur. Sementara itu, dalam artian fiqih, sholat Tahajud ialah sholat sunnah pada malam hari yang dilakukan setelah tidur. Hukum Sunnah sholat Tahajud bersifat muakkad yang berarti sangat kuat. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW selalu melakukannya. jadi tata cara sholat Tahajud yang benar itu bagaimana, ya? dan, apa saja bacaan sholat Tahajud? yuk simak artikel di bawah ini,

Bagaimana Tata Cara Sholat Tahajud Yang Benar?

Berikut ini tata cara sholat Tahajud dan bacaannya:

  1. Niat Sholat Tahajud

    Pertama, baca niat sholat Tahajud dengan bacaan berikut:

    Ushallî sunnatat tahajjudi rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.

    Artinya yaitu: “Aku berniat sholat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

    Atau

    Ushallii sunnata-t-tahajjudi rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’alla.

    Artinya yaitu: “Aku berniat untuk sholat sunnah Tahajud dua rakaat dengan menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”

  2. Takbiratul Ihram

    Mengucapkan takbir sambil mengangkat tangan.

  3. Doa Iftitah

    Membaca doa iftitah.

  4. Surah Al Fatihah

    Setelah doa iftitah, bacaan dilanjutkan dengan surah Al Fatihah.

  5. Surat dalam Al Qur’an

    Kemudian, baca salah satu surat yang ada dalam Al Qur’an.

  6. Rukuk

    Melakukan gerakan rukuk dengan bacaannya.

  7. I’tidal

    Melakukan i’tidal disertai bacaannya.

  8. Sujud

    Melakukan sujud dengan bacaannya.

  9. Duduk di antara dua sujud

    Melakukan duduk di antara dua sujud dengan bacaannya.

  10. Sujud

    Kembali sujud disertai bacaan gerakan sujud.

  11. Berdiri

    Berdiri untuk masuk ke rakaat kedua.

  12. Mengulang rakaat pertama

    Ulangi gerakan dan bacaan-bacaan gerakan rakaat pertama dari cara ke-4 hingga cara ke-10.

  13. Tahiyat akhir di rakaat kedua

    Setelah sujud, duduk tahiyat akhir pada rakaat kedua dengan bacaannya yang sama seperti bacaan sholat fardhu.

  14. Salam

    Mengakhiri sholat dengan mengucapkan salam ke arah kanan lalu ke arah kiri.

  15. Doa Setelah Tahajud

    Menurut NU Online, inilah doa setelah sholat Tahajud:

    Allâhumma rabbanâ lakal hamdu. Anta qayyimus samâwaati wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal-hamdu anta maalikus samâwâti wal-ardhi wa man fii hinna. 

    Wa lakal hamdu anta nuurussamawaati wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa‘dukal haqq. Wa liqâ’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan nâru haqq. Wan nabiyyûna haqq. 

    Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haqq. Was sâ‘atu haqq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. 

    Faghfir lii mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a‘lantu, wa mâ anta a‘lamu bihi minnî. Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa laa haula, wa lâ quwwata illâ billâh.

    Arti dari bacaan sholat Tahajud tersebut yaitu:

    “Ya Allah, segala puji bagimu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk yang ada di dalamnya. Segala puji bagimu, Engkau lah penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. 

    Segala puji bagimu, Engkau lah cahaya langit, bumi, dan segala makhluk di dalamnya. Segala puji bagimu, Engkau Maha Benar. Janjimu benar. Pertemuan denganmu kelak itu benar. Firmanmu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. 

    Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad SAW itu benar. Hari Kiamat itu benar. Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. 

    Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya, ampunilah dosaku yang lalu dan yang kemudian, baik itu dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Engkau ketahui ketimbang aku. 

    Engkau Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tidak ada daya upaya serta kekuatan selain pertolongan Allah SWT.”

 

Yuk. rajin sholat Tahajud!

 

Copyright © 2026 enbigi.com