Mengapa Orang Jawa Menganggap 1 Suro Keramat?

 

Makna 1 Suro dalam Tradisi Jawa

Dalam tradisi masyarakat Jawa, 1 Suro merupakan hari pertama dalam penanggalan Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Namun, makna 1 Suro dalam budaya Jawa jauh lebih dalam dibanding sekadar pergantian tahun. Hari ini dianggap keramat, penuh dengan aura spiritual dan sakralitas yang tinggi. Banyak orang Jawa mempercayai bahwa pada malam 1 Suro, batas antara dunia nyata dan gaib menjadi sangat tipis, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk tirakat, meditasi, dan ritual spiritual lainnya.

Asal Usul dan Pengaruh Kejawen

Pemahaman tentang kekramatan 1 Suro tidak bisa dilepaskan dari tradisi Kejawen, sebuah sistem spiritual dan kebudayaan Jawa yang menggabungkan unsur animisme, Hindu-Buddha, dan Islam. Dalam Kejawen, 1 Suro merupakan waktu untuk introspeksi, penyucian diri, dan meminta keselamatan kepada Tuhan. Ini bukan waktu untuk berpesta, melainkan untuk hening dan mawas diri. Karena itu, masyarakat Jawa biasanya menghindari kegiatan yang dianggap membawa kesenangan berlebihan, seperti pesta pernikahan atau hajatan besar, pada malam 1 Suro.

Hubungan dengan Kisah Mistis dan Legenda

Banyak kisah mistis dikaitkan dengan malam 1 Suro. Di berbagai daerah di Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta, malam ini sering dikaitkan dengan ritual kerajaan seperti kirab pusaka (arak-arakan benda-benda sakral) yang dilakukan untuk menjaga keharmonisan antara alam nyata dan gaib. Di kalangan masyarakat awam pun berkembang kepercayaan bahwa pada malam ini banyak makhluk halus berkeliaran, sehingga orang diminta untuk tidak keluar rumah sembarangan.

Beberapa legenda menyebutkan bahwa roh para leluhur dan makhluk halus “berkumpul” pada malam ini. Oleh karena itu, banyak orang melakukan tirakat, seperti puasa mutih, kungkum (berendam di sungai), atau semedi, untuk mendapatkan petunjuk batin atau perlindungan spiritual.

Simbol Transformasi dan Kesadaran Diri

Dalam pandangan spiritual Jawa, 1 Suro juga merupakan simbol awal baru dan kesadaran diri. Bukan hanya tahun yang berganti, tetapi juga kesempatan untuk memperbarui niat hidup dan memperkuat hubungan dengan Tuhan dan leluhur. Ini sejalan dengan konsep Jawa tentang manunggaling kawula Gusti (penyatuan hamba dengan Tuhan), yang menjadi puncak dari laku spiritual.

Bagi masyarakat Jawa, 1 Suro bukan sekadar penanggalan atau perayaan tahun baru, melainkan momentum keramat yang sarat makna spiritual. Hari ini menjadi simbol refleksi, pembersihan batin, dan penghormatan terhadap kekuatan gaib serta leluhur. Dalam dunia modern sekalipun, tradisi ini masih dipertahankan oleh banyak orang sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan spiritual nenek moyang.

 

Asal Usul Sejarah Keris

 

Warisan Budaya Nusantara yang Sarat Makna dan Sejarah

Keris adalah senjata tradisional yang khas dari Nusantara, khususnya Indonesia, dan memiliki nilai sejarah, budaya, serta spiritual yang sangat tinggi. Lebih dari sekadar senjata tajam, keris telah menjadi simbol kekuasaan, identitas, hingga spiritualitas sejak ratusan tahun silam. Pada tahun 2005, UNESCO menetapkan keris sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda dari Indonesia.

Asal Usul dan Sejarah Keris

Sejarah keris diperkirakan sudah ada sejak abad ke-9 hingga ke-11 Masehi, dengan bukti arkeologis yang ditemukan di situs-situs kerajaan kuno di Jawa dan Bali. Salah satu temuan tertua adalah relief di Candi Borobudur dan Prambanan yang menggambarkan bentuk senjata mirip keris.

Keris diyakini berkembang pesat pada masa Kerajaan Majapahit dan Mataram, ketika keris bukan hanya digunakan sebagai alat perang, tetapi juga sebagai lambang status sosial dan spiritual. Pada masa itu, keris dimiliki oleh para bangsawan, pendekar, bahkan raja sebagai bagian dari pakaian resmi dan simbol kehormatan.

Filosofi dan Fungsi Keris

Keris memiliki bentuk yang unik dengan bilah yang bisa lurus atau berlekuk-lekuk (luk), dan setiap lekukan memiliki makna tersendiri. Keris dianggap mengandung tuah atau kekuatan spiritual, terutama jika dibuat oleh seorang Empu (pembuat keris) yang sakti dan menguasai ilmu kanuragan dan spiritualitas.

Fungsi keris sepanjang sejarah sangat beragam:

  • Senjata pertahanan dan perang

  • Simbol status sosial dan kebangsawanan

  • Benda pusaka atau warisan keluarga

  • Alat spiritual dan pelengkap ritual adat

  • Simbol identitas budaya daerah

Proses Pembuatan Keris

Pembuatan keris adalah sebuah proses yang panjang dan sarat ritual. Seorang Empu biasanya menggunakan bahan logam campuran seperti besi, baja, dan pamor (nikel atau batu meteorit). Proses tempa dilakukan berulang-ulang hingga menghasilkan pola unik pada bilah keris, yang disebut motif pamor.

Beberapa motif pamor diyakini membawa keberuntungan, keselamatan, atau bahkan kekuatan magis. Karena itu, pembuatan keris tidak bisa dipisahkan dari unsur spiritual dan etika.

Keris dalam Kehidupan Budaya

Keris berkembang tidak hanya di Jawa, tetapi juga di daerah-daerah lain seperti Madura, Bali, Lombok, Sumatera, Sulawesi, hingga Malaysia dan Thailand Selatan. Masing-masing daerah memiliki gaya dan bentuk keris yang khas, mencerminkan nilai budaya lokal.

Dalam upacara adat, seperti pernikahan, khitanan, hingga pelantikan pejabat tradisional, keris sering dijadikan pelengkap busana adat. Keris juga hadir dalam pertunjukan seni seperti wayang, tari tradisional, dan kisah-kisah legenda.

Penutup

Keris bukan hanya peninggalan sejarah, melainkan identitas budaya bangsa Indonesia yang masih lestari hingga kini. Ia mengandung nilai estetika, spiritual, dan filosofis yang mendalam. Dalam zaman modern, keris tetap dipelajari, dilestarikan, dan dimuliakan—menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan budaya Nusantara.(enbigi/Echoe)

 

 

Sejarah Panjat Pinang: Tradisi Lomba yang Sarat Makna

Panjat pinang adalah salah satu permainan tradisional yang kerap diadakan dalam perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Lomba ini telah menjadi simbol kebersamaan dan semangat gotong royong yang khas dalam budaya Indonesia. Namun, di balik keceriaan dan kegembiraan yang dihadirkan, panjat pinang memiliki sejarah yang panjang dan terkait erat dengan masa kolonial di Indonesia.

Asal Usul Panjat Pinang

Tradisi panjat pinang sebenarnya berasal dari masa kolonial Belanda. Konon, permainan ini pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-17 sebagai hiburan dalam pesta-pesta mereka. Pada masa itu, panjat pinang tidak diadakan sebagai perayaan kemerdekaan, melainkan sebagai bagian dari acara peringatan atau perayaan pribadi di kalangan para pejabat dan kaum elit kolonial.

Pohon pinang, yang merupakan tanaman asli daerah tropis, dipilih karena batangnya yang tinggi dan lurus, serta permukaannya yang licin. Untuk menambah tantangan, batang pohon pinang diolesi dengan minyak atau pelumas sehingga sangat sulit untuk dipanjat. Di puncak batang, hadiah-hadiah seperti pakaian, makanan, hingga barang-barang rumah tangga yang mewah untuk ukuran zaman itu, digantung sebagai pemikat bagi para peserta.

Simbolisme dan Makna

Pada masa kolonial, panjat pinang sering dianggap sebagai bentuk hiburan bagi para penjajah Belanda, di mana penduduk pribumi dijadikan peserta yang berlomba-lomba mendapatkan hadiah yang tergantung di atas. Situasi ini melambangkan kesulitan dan perjuangan rakyat yang harus “memanjat” berbagai rintangan untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya tidak mudah mereka raih di bawah pemerintahan kolonial.

Meskipun awalnya tradisi ini bisa dipandang sebagai simbol penindasan, masyarakat Indonesia perlahan mengadopsi panjat pinang dan memberikannya makna baru setelah kemerdekaan. Kini, panjat pinang dipandang sebagai simbol persatuan dan kerja sama. Permainan ini mengajarkan pentingnya kerjasama tim, di mana peserta harus saling membantu untuk mencapai puncak dan mendapatkan hadiah.

Perkembangan Panjat Pinang Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, panjat pinang mulai berkembang menjadi salah satu lomba yang paling dinantikan dalam perayaan Hari Kemerdekaan setiap tanggal 17 Agustus. Permainan ini digelar di berbagai daerah, dari kota besar hingga desa-desa kecil, dengan berbagai variasi dan hadiah yang disesuaikan dengan kemampuan panitia lokal.

Dalam pelaksanaannya, panjat pinang melibatkan banyak peserta yang berusaha memanjat batang pohon pinang yang telah dilumuri pelumas. Para peserta biasanya berkelompok, dan mereka harus saling membantu dengan cara memanjat tubuh satu sama lain untuk mencapai puncak. Dalam prosesnya, tidak jarang terjadi momen-momen lucu dan dramatis yang justru menambah keceriaan acara.

Hadiah yang digantung di puncak pinang kini bervariasi, mulai dari bahan makanan, pakaian, hingga peralatan rumah tangga. Meski hadiah-hadiah ini menjadi daya tarik utama, esensi dari panjat pinang sebenarnya terletak pada semangat gotong royong dan kebersamaan yang tercipta selama lomba berlangsung.

Panjat Pinang di Era Modern

Meskipun sudah berusia ratusan tahun, panjat pinang tetap relevan dan populer hingga saat ini. Banyak masyarakat yang terus melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya dan perayaan kemerdekaan. Di beberapa daerah, panjat pinang bahkan menjadi atraksi wisata yang menarik, di mana wisatawan dapat menyaksikan dan ikut serta dalam lomba yang penuh tantangan ini.

Dalam konteks yang lebih luas, panjat pinang juga mengingatkan kita pada pentingnya semangat perjuangan dan kebersamaan dalam menghadapi tantangan hidup. Seperti halnya memanjat batang pinang yang licin, setiap individu dihadapkan pada rintangan yang tidak mudah dalam kehidupan, namun dengan kerja keras, semangat pantang menyerah, dan dukungan dari sesama, setiap tantangan bisa diatasi.

Kesimpulan

Panjat pinang bukan sekadar lomba tradisional, tetapi juga cerminan dari perjalanan sejarah dan semangat kebangsaan Indonesia. Dari asal-usulnya di masa kolonial hingga menjadi bagian integral dari perayaan Hari Kemerdekaan, panjat pinang mengajarkan nilai-nilai kerjasama, kebersamaan, dan semangat pantang menyerah. Melalui tradisi ini, kita diingatkan bahwa dalam kesulitan dan tantangan, selalu ada kesempatan untuk mencapai kemenangan asalkan kita mau bekerja sama dan tidak menyerah.

 

Asal Muasal Nama Bogor

Bogor adalah sebuah kota yang berada wilayah Provinsi Jawa Barat. Bogor yang merupakan kota berjuluk Kota Hujan ini tidak jauh dari Ibu Kota Jakarta. Nah, seperti apa asal usul nama Bogor?

Secara administratif, penggunaan nama Bogor ada dua, yaitu Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, dan keduanya sama-sama masih di Propinsi Jawa Barat. Dan nama Bogor sendiri ternyata memiliki sejarah yang menarik.

Kota Bogor mempunyai luas 118,5 Km2, adapun Kabupaten Bogor memiliki luas 2.664 Km2. Wilayah yang tidak jauh dari Ibu Kota ini terdapat sejumlah tempat wisata dan sejarah menarik.

Ternyata ada empat pendapat yang menyebutkan asal muasal nama Bogor. Dihimpun dari laman resmi bogorkab.go.id, pada tahun 1745, cikal bakal masyarakat Bogor semula berasal dari sembilan kelompok permukiman yang digabungkan oleh Gubernur Baron Van Inhof menjadi inti kesatuan masyarakat Kabupaten Bogor.

Nama Bogor menurut beberapa pendapat bahwa kata Bogor berasal dari kata “Buitenzorg” nama resmi yang berasal dari Penjajah Belanda.

Buitenzorg adalah nama yang diberikan pemerintah kolonial, akan tetapi karena salah pengucapan oleh masyarakat lokal kata Buitenzorg berubah menjadi Bogor.

Buitenzorg hanyalah salah satu dari empat pendapat tentang asal muasal kata Bogor yang dibahas oleh Sejarawan Universitas Padjadjaran, Mumuh M Zakaria dalam buku berjudul “Kota Bogor: Studi mengenai Ekologi Perkembangan Ekologi Kota Abad ke-19 hingga ke-20”.

Pendapat lain berasal dari kata “Bahai” yang berarti Sapi, yang kebetulan terdapat patung sapi di Kebun Raya Bogor. Demikian dilansir dari bogorkab.go.id.

Sedangkan pendapat ketiga menyebutkan Bogor berasal dari kata “Bokor” yang berarti tunggul pohon enau (kawung).

Dalam versi lain menyebutkan nama Bogor telah tampil dalam sebuah dokumen tanggal 7 April 1952, tertulis “Hoofd Van de Negorij Bogor” yang berarti kurang lebih Kepala Kampung Bogor, yang menurut informasi kemudian bahwa Kampung Bogor itu letaknya di dalam lokasi Kebun Raya Bogor yang mulai dibangun pada tahun 1817.

Pada waktu itu Bupati Demang Wartawangsa berusaha meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat yang berbasis pertanian dengan menggali terusan dari sungai Ciliwung ke sungai Cimahpar dan dari Nanggewer sampai ke Kalibaru/Kalimulya.

Penggalian untuk membuat terusan sungai dilanjutkan di sekitar pusat pemerintahan, tapi pada th 1754 pusat pemerintahannya terletak di Tanah Baru selanjutnya dipindahkan ke Sukahati (Kampung Empang sekarang).

Dari sisi sejarah, Kabupaten Bogor adalah merupakan salah satu wilayah yang menjadi pusat kerajaan tertua di Indonesia.

Catatan Dinasti Sung di China dan prasasti yang ditemukan di Tempuran Sungai Ciaruteun dengan Sungai Cisadane, memperlihatkan bahwa setidaknya pada pertengahan awal Abad ke 5 M di wilayah ini telah ada sebuah bentuk pemerintahan.

Prasasti-prasasti lainnya peninggalan Purnawarman antara lain prasasti Kebon Kopi di Kecamatan Cibungbulang, Prasasti Jambu di Bukit Koleangkak (Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang), dan prasasti Lebak (di tengah sungai Cidanghiyang, Propinsi Banten). Pada abad ke 6 dan ke 7 Kerajaan Tarumanagara merupakan penguasa tunggal di wilayah Propinsi Jawa Barat.

Setelah Tarumanagara, pada abad-abad selanjutnya kerajaan terkenal yang pernah muncul di Tanah Pasundan (Jawa Barat) adalah Sunda, Pajajaran, Galuh, dan Kawali. Yang kesemuanya tak terlepas dari keberadaan wilayah Bogor dan sekitarnya.

Sejarah awal mula berdirinya Kabupaten Bogor, ditetapkan pada tgl 3 Juni yang diilhami dari tgl pelantikan Raja Padjajaran yang terkenal yaitu Sri Baduga Maharaja yang dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 1482.

Sumber: bogordaily.net

Mengenal Asal Usul Suku Baduy Banten

Mengenal Asal Usul Suku Baduy Banten

Berbagai kelompok suku dan etnis mewarnai keragaman yang ada di Indonesia, diantaranya  adalah Suku Baduy. Suku Baduy merupakan penduduk asli yang hidup di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Nama Baduy merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut.

Dilansir dari laman Kemendikbud, nama Baduy merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut. Pendapat pertama munculnya nama baduy berasal dari sebutan para peneliti dari Belanda yang mengamati kemiripan mereka dengan kelompok Arab Badawi di Timur Tengah yang merupakan masyarakat dengan cara hidup berpindah-pindah (nomaden).

Pendapat lain adalah nama Baduy muncul oleh sebab adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Sementara itu orang Baduy malah lebih suka menyebut dirinya sebagai urang Kanekes atau orang Kanekes sesuai dengan nama wilayah dan tempat yang mereka tinggali.

Mengenal Asal Usul Suku Baduy Banten, Dilansir dari laman Kemendikbud, sejarah suku Baduy Dalam berasal dari Batara Cikal, yaitu salah satu dari tujuh dewa yang diturunkan ke bumi. Batara Cikal sendiri memiliki peran untuk mengatur keseimbangan yang ada di bumi. Versi tersebut mirip dengan cerita diturunkannya Nabi Adam ke bumi. Suku Baduy pun percaya bahwa mereka adalah keturunan Nabi Adam. Adapun para ahli sejarah memiliki pendapat sendiri berdasar pada temuan prasasti sejarah, catatan para pelaut dari Portugis dan Tiongkok yang dihubungkan dengan cerita rakyat tentang Tatar Sunda.

Pada versi yang diungkap ahli sejarah, masyarakat baduy (kanekes) memiliki kaitan dengan Kerajaan Pajajaran pada sekitar di abad ke-16 di mana kesultanan Banten belum berdiri. Dengan wilayah yang strategis, Pangeran Pucuk memerintahkan pasukan prajurit pilihan untuk menjaga kelestarian Gunung Kendeng-Sungai Ciujung. Versi ketiga diungkap Van Tricht yang berkunjung ke Baduy di tahun 1982 yang tidak mengakui kedua pendapat diatas. Menurut Van Tricht, masyarakat Baduy sudah ada sejak lama disana dan merupakan masyarakat asli dan sangat ketat mempertahankan kebudayaan nenek moyang mereka.

Pendapat Van tricht sejalan dengan pendapat Danasasmita dan Djatisunda (1986:4-5) yang mana menurut dua ahli ini pada masa lalu ada seorang raja yang berkuasa di wilayah sekitar Baduy bernama Rakeyan Darmasiska. Sang raja ini memerintahkan masyarakat Baduy untuk memelihara Kabuyutan (tempat pemujaan nenek moyang) dan menjadikan kawasan tersebut sebagai Mandala atau kawasan suci.

Sementara para perempuan Baduy memiliki keahlian menenun dengan tenun halus untuk pakaian dan tenun kasar untuk ikat kepala serta ikat pinggang. Untuk membawa peralatan sehari-hari, Suku Baduy juga membuat tas yang terbuat dari kulit pohon terep yang bernama koja atau jarog. Dalam tatanan masyarakatnya, pemimpin Suku Baduy disebut Pu’un, asisten pemimpin Suku Baduy disebut Jaro, dan pemimpin adat disebut Kejeroan. Selain itu, masyarakat Suku Baduy sendiri dikenal memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan. Tempat sembahyang umat Sunda Wiwitan adalah pamunjungan atau kabuyutan, yaitu tempat punden berundak yang biasanya terletak di atas bukit.

Suku Baduy terkenal memiliki berbagai tradisi, yang di antaranya cukup khas dan terkenal akan keunikannya. Berikut adalah beberapa diantaranya.

  1. Gemar Berjalan Kaki

Masyarakat Suku Baduy dikenal orang yang sangat gemar berjalan dengan kaki telanjang. Mereka akan berjalan kaki kemanapun walau jarak yang ditempuh cukup lumayan jauh tanpa menggunakan alas kaki. Tidak mengenakan alas kaki dan tidak memakai kendaraan sebagai alat transportasi merupakan prinsip hidup Suku Baduy untuk menjaga keselarasan dengan alam.

   2. Sistem Kekerabatan Berdasar Wilayah

Dalam masyarakat Baduy terdapat sistem kekerabatan yang menitik beratkan pada wilayah tempat tinggal. Hubungan kekerabatan bisa dilihat dari tiga sisi yaitu Kampung Tangtu, Kampung Panamping, dan Pajaroan. Dalam hal ini, seluruh wilayah Desa Baduy adalah “Tangtu Teulu Jaro Tujuh” yang berarti seluruh penduduk di wilayah Kanekes Baduy merupakan satu kerabat yang berasal dari satu nenek moyang. Adapun perbedaannya ada padai generasi antara tua dan muda, di mana orang Cikeusik dianggap yang tertua, Cikertawana yang menengah, dan Cibeo yang termuda.

3. Sistem Kekerabatan Merujuk Nama Ibu

Merujuk Nama Ibu Masyarakat Baduy juga memiliki keunikan nama dengan mengambil suku kata awal orang tuanya. Anak perempuan biasanya akan mengambil dari nama ayahnya, sedangkan anak laki-laki dari ibunya. Sebagai contoh, apabila seorang ibu bernama Arsunah maka nama anak laki-lakinya adalah Ardi atau Arsani. Namun untuk cara panggilan masyarakat Baduy justru menggunakan panggilan dengan nama anak. Sebagai contoh, seorang ayah yang memiliki anak laki-lakinya bernama Asep maka ia akan dipanggil Ayah Asep padahal nama aslinya adalah Ujang. Karena panggilan ini terus menerus digunakan, tak jarang banyak orang tua kemudian lupa dengan nama aslinya sendiri.

Sumber: Kompas.com

 

Asal Usul Sungai Brantas Jawa Timur

Sungai Brantas yang letaknya di JaTim adalah sungai terpanjang ke-2 di Jawa setelah Bengawan Solo. Disebut seperti itu sebab sungai ini berhulu di sebuah Desa dangan Sumber Brantas, Kec. Bumiaji, Kota Baru. Aliran Sungai Brantas bersumber dari simpanan air Gunung Arjuno yang mengalir ke , Blitar, Kediri,Tulungagung,, Jombang, Malang dan Mojokerto.

Pada masa kerajaan-kerajaan Hindu- Budha di Jawa, Sungai Brantas menjadi lalu lintas perdagangan dunia. Sungai Brantas mempunyai panjang sungai utama sepanjang 320 km dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 11.800 km² atau 1/4 dari keseluruhan luas keseluruhan Provinsi Jatim. Kawasan DAS ini sudah lama dimanfaatkan sebagai area pertanian dari abad ke delapan.

Harta Karun Tersembunyi

Sejak dahulu, Sungai Brantas menjadi jalur tranportasi untuk lalu lalang kapal-kapal dagang dan peperang. Banyak pelabuhan didirikan disepanjang aliran sungainya untuk mengakomodir kapal-kapal saudagar dari luar Pulau Jawa. Pada jaman Belanda, Mataram dan VOC pernah satu kali menyerang Istana Trunojoyo di daerah Kediri lewat jalur air dan berakibat pada tenggelamnya salah satu kapal di Sungai Brantas.

Banyak kapal-kapal gede lainnya yang tenggelam di Sungai Brantas dan menengkaramkan seluruh harta benda yang mereka bawa. Kejadian-kejadian tragis pada jaman dulu selanjutnya menjadi berkah bagi para penambang emas. Bahkan sering mereka menemukan berbagai jenis koin emas serta barang berharga lainnya yang diperkirakan berasal dari kapal yang tenggelam.

Kerajaan Ratu Buaya Putih

Terdapat cerita mengenai sosok buaya putih bernama Badug Seketi di Kecamatan Kras Kediri. Mulanya dahulu Badung Seketi memiliki hubungan baik dengan penduduk sekitar. Setiap kali ada hajatan, penduduk selalu meminta keperluannya dipenuhi oleh sang Badung Seketi. Konon hubungan baik masih terus terjadi hingga tahun 1970an.

Tak sedikit film-film lama bergenre horror yang mengadopsi tema tentang misteri buaya putih. Hanya sedikit yang tahu, ternyata kisah ngeri itu diangkat dari cerita masyarakat di Sungai Brantas. Semenjak dulu tidak sedikit tumbal nyawa yang terpaksa harus ditumbalkan untuk meredam amarah dari sang Ratu Buaya Putih. Pada thun 1009, Mpu Baradah berkali-kali tercatat menumbalkan orang ketika memecah Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala.

Cerita mengenai keberadaan buaya putih juga dijumpai dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada rentang waktu 1836-1876. Ketika itu, pembangunan jembatan lama yang membelah Sungai Brantas di Kediri mengalami masalah. Tapi setelah tumbal dijatuhkan pembangunan akhirnya dapat dilanjutkan dan rampung.

Sumber: phinemo.com

Inilah Beberapa 7 Kejadian Unik Dan Tak Terduga Saat Upacara Kemerdekaan RI

Inilah Beberapa 7 Kejadian Unik Dan Tak Terduga Saat Upacara Kemerdekaan RI, tentunya dalam setiap kegiatan upacara ada saja kejadian aneh yang berhasil di abadikan oleh beberapa orang yang secatra sengaja ataupun tidak

Yuk kita simak beberapa kejadian aneh tersebut yang berhasil di abadikan seperti pada kejadia di video berikut ini

 

Sumber:Youtube

Asal usul Nama Sungai Cisadane Tangerang Banten

Asal usul Nama Sungai Cisadane Tangerang Banten,Mendengar  kata cisadane tentunya  pikiran kita pasti akan tertuju dengan Tangerang. Cisadane merupakan Sungai yang membelah Tangerang  ini pastinya sudah melekat  dan jadi ikon Tangerang . Sungai Cisadane memiliki  panjang sekitar 126 km dan ini menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari Tangerang.

Pada mulanya dalam waktu yang  berabad-abad lamanya  sebelumnya  aliran Cisadane digunakan oleh  para pedagang yang ingin berlayar ke daerah Tangerang. Dahulu sebelumnya  sungai  Cisadane ini memiliki nama Sadane. Nah Ci istilah dalam bahasa Sunda yang berarti sungai, Sedangkan kata Sadane adalah berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti istana kerajaan. Jadi  nama CiSadane memiliki arti sungai yang asalnya dari istana kerajaan. Dan yang dimaksud istana kerajaan tersebut Kemungkinan adalah Kerajaan Pajajaran dengan ibukota di Pakuan  Bogor.

Asal usul Nama Sungai Cisadane Tangerang Banten Sungai Cisadane memiliki Panjang dari hulu sampai ke hilir kurang lebih 126 kilometer. Dari bagian hulu hingga sampai Tangerang, sungai Cisadane mempunyai  tebing sungai yang cukup terjal dan juga dalam. Akan tetapi pada saat sampai di Tangerang menuju muara, tebing sungai semakin  rendah namun aliran sungai mulai melebar.

Berdasarkan  catatan sejarah pada abad 16 sungai cisadane ini di gunakan untuk lalu lintas dagang dan banyak kapal dagang kecil memasuki muara Cisadane untuk berlabuh ke Tangerang.  Kemungkinan pada  waktu itu tempat yang di gunakan adalah daerah Mauk, Kedaung, Sewan, Kampung Melayu, dan Teluk Naga, dan tempat ini pada jamanya masih berupa rawa-rawa, sehingga muara sungai Cisadane masih berada di dekat Tangerang.

Dan Keberadaan aliran sungai Cisadane di Tangerang  ternyata sangat penting . Ini Karena aliran air sungai Cisadane digunakan untuk  produksi air bersih yang yang di kelolla oleh PDAM untuk memasok masyarakat dan industi yang berada Tangerang dan daerah jakarta yang berdekatan dengan Tangerang. Bahkan aliran sungai cisadane ini manjadi tumpuan bagi masyarakat Tangerang baik Kota Maupun Kabupaten dalam urusan air bersih. Karena jika aliran sungai cisadane ini mengalami gangguan maka akan berdampak sangat luas terhadap kehidupan masyarakat yang sangat membutuhkan pasokan air bersih.

Seiring dengan berkembangnya Tangerang saat ini  Selain untuk layanan air bersih, Sungai Cisadane juga sering digunakan untuk perayaan festival lokal dan perayaan lainya yang berhubungan dengan Tangerang. Sebagai contoh sebut saja Festival Cisadane yang perayaanya selalu ramai karena selalu ada kegiatan yang melibatkan masyarakat Tangerang dalam setiap acara tersebut dilaksanakan. Dan di sungai cisadane saat ini sudah di bangun jembatan yang di atasnya terdapat kaca yang bisa melihat ke bawah aliran sungai jika pengunjung berada diatasnya.

Sungai Cisadane ini sangat lekat dengan Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan atau yang sekarang di namakan Tangerang Raya. Semoga Cisadane terus dapat mengalir juga bebas dari polusi air, sehingga  sungai cisadane akan selalu bisa dimanfaatkan untuk seluruh masyarakat Tangerang sampai anak dan cucu kita. Nah sekarang sudah taukan Asal usul Nama Sungai Cisadane Tangerang Banten semoga bermanfaat.

Sumber:enbigi.com

Sejarah Dan Asal Kesenian Reog Ponorogo

Kabupaten Ponorogo diketahui dengan panggilan Kota Reog atau Bumi Reog sebab wilayah ini adalah wilayah asal dari kesenian Reog. Ponorogo dikenal juga jadi Kota Santri sebab mempunyai banyak ponpes, salah satunya yang populer ialah Pondok Kekinian Darussalam Gontor yang terdapat di desa Gontor, kecamatan Mlarak.
Tiap tahun pada bulan Suro (Muharram), Kabupaten Ponorogo membuat satu serangkaian acara berbentuk pesta rakyat yakni Grebeg Suro. Pada pesta rakyat ini diperlihatkan beberapa jenis seni serta adat, salah satunya Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Riwayat serta Kirab Pusaka, serta Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.

Sejarah Dan Asal Kesenian Reog Ponorogo

Riwayat kesenian reog datang dari narasi rakyat. Narasi ini diambil mengenai pemberontakan Ki Ageng Kutu. Dikisahkan jika Ki Ageng Kutu yang disebut seorang abdi kerajaan di Kertabumi pada era ke-15. Dia lakukan pemberontakan sebab murka akan pemerintahan raja yang dipengaruhi kuat dari istri raja majapahit yang datang dari cina. Dia lantas tinggalkan sang raja serta membangun perguruan bela diri.

Tetapi ki Ageng Kutu sadar jika pasukannya begitu kecil untuk menantang pasukan kerajaan, karena itu dia membuat pergelaran seni Reog yang disebut sindiran pada raja Kertabumi serta kerajaannya.
Ketenaran Reog Ki Ageng Kutu pada akhirnya membuat Kerajaan Kertabhumi ambil aksi serta menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok secara cepat ditangani, serta perguruan dilarang untuk meneruskan edukasi akan warok. Tetapi murid-murid Ki Ageng kutu masih meneruskannya dengan diam-diam. Walau bagaimanapun, kesenian Reognya sendiri masih dibolehkan untuk dipentaskan sebab telah jadi atraksi terkenal antara warga, tetapi alur ceritanya mempunyai jalur baru dimana ditambah lagi karakter-karakter dari narasi rakyat Ponorogo yakni Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, serta Sri Genthayu.

Versus sah jalan cerita Reog Ponorogo sekarang ialah narasi mengenai Raja Ponorogo yang punya niat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, tetapi ditengah-tengah perjalanan dia dihentikan oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terbagi dalam merak serta singa, sedang dari faksi Kerajaan Ponorogo Raja Kelono serta Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria kenakan pakaian hitam-hitam dalam tariannya), serta warok ini mempunyai pengetahuan hitam mematikan. Semua tariannya adalah tarian perang di antara Kerajaan Kediri serta Kerajaan Ponorogo, serta mengadu pengetahuan hitam di antara keduanya, beberapa penari dalam kondisi kerasukan waktu mementaskan tariannya.

Sumber: Ceritarakyat.com

Mengungkap Fakta POHON KEMBAR Yogyakarta Yang Menjadi Misteri

Mengungkap Fakta POHON KEMBAR Yogyakarta Yang Menjadi Misteri, Yogyakarta merupakan salah satu kota yang amat dirindukan dengan nuansa kental Jawa yang begitu bersahabat. Akan tetepi seiring dengan  perkembangan zaman yang semakin modern, Yogyakarta juga masih memiliki beragam mitos yang melekat dan masih dipercaya oleh masyarakat setempat sampai saat ini. Diantaranya adalah Pohon Beringin kembar yang berada di Alun-alun kidul kota yogyakarta ini. Mungkin bagi kamu yang pernah berkunjung ke Yogyakarta, pernah mendengar beragam mitos mengenai pohon beringin kembar ini. Salah satunya yang paling terkenal di kalangan anak muda adalah mitos tentang siapun orang yang bisa melewati Pohon Beringin ini dengan mata yang di tutup rapat, maka apa yang di inginkan akan terkabul. Mungkin di atara kalian yang pernah berkunjung pernah mencobanya..

Yuk tonton vodeo di bawah ini

 

Sumber:www.youtube.com/watch?v=-Rt5EUTFWjs

Copyright © 2026 enbigi.com