Sejarah Awal Mula Kabupaten Ponorogo Jawa Timur

Sejarah Awal Mula Kabupaten Ponorogo Jawa Timur.Asal-usul Ponorogo dapat ditelusuri kembali ke masa lampau, dengan bukti-bukti sejarah yang menunjukkan keberadaan pemukiman manusia di wilayah ini sejak zaman prasejarah. Namun, Ponorogo secara resmi diakui sebagai kabupaten pada tanggal 14 April 1274 Masehi, di bawah pemerintahan Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Sejak itu, Ponorogo berkembang menjadi pusat perdagangan dan kegiatan ekonomi yang penting di Jawa Timur.

Kebudayaan dan Tradisi

Ponorogo terkenal dengan kekayaan budaya dan tradisinya yang unik. Salah satu warisan budaya terpenting adalah kesenian Reog Ponorogo, sebuah pertunjukan yang menggabungkan tarian, musik, dan pertunjukan kostum yang megah. Reog Ponorogo dipercaya berasal dari masa pemerintahan Majapahit dan merupakan simbol keberanian dan kekuatan spiritual.

Selain Reog, Ponorogo juga dikenal dengan seni tradisional lainnya seperti Tayuban, Jathilan, dan Ludruk. Seni-seni ini tidak hanya merupakan hiburan, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas budaya dan kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Perjuangan dan Peristiwa Bersejarah

Sebagai bagian dari perjalanan sejarah Indonesia, Ponorogo juga memiliki peran penting dalam perjuangan melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan. Selama masa perang kemerdekaan, Ponorogo menjadi saksi dari berbagai pertempuran dan peristiwa heroik yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan.

Salah satu tokoh terkenal dari Ponorogo adalah Bambang Utoyo, seorang pahlawan nasional yang berperan dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Pengorbanan dan semangat perjuangan pahlawan-pahlawan seperti Bambang Utoyo terus dihargai dan diabadikan oleh masyarakat Ponorogo hingga saat ini.

Pariwisata dan Pengembangan Kota

Selain kekayaan budaya dan sejarahnya, Ponorogo juga menjadi tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan alamnya yang menakjubkan, seperti Air Terjun Nglirip dan Goa Tetes, menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung.

Selain itu, Ponorogo juga terus melakukan pembangunan dan pengembangan infrastruktur untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Dengan berbagai proyek pembangunan yang sedang berlangsung, Ponorogo terus berupaya untuk menjadi kota yang modern dan berkembang.

 

Asal-usul Ponorogo dapat ditelusuri kembali ke masa lampau, dengan bukti-bukti sejarah yang menunjukkan keberadaan pemukiman manusia di wilayah ini sejak zaman prasejarah. Namun, Ponorogo secara resmi diakui sebagai kabupaten pada tanggal 14 April 1274 Masehi, di bawah pemerintahan Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Sejak itu, Ponorogo berkembang menjadi pusat perdagangan dan kegiatan ekonomi yang penting di Jawa Timur.

Kebudayaan dan Tradisi

Ponorogo terkenal dengan kekayaan budaya dan tradisinya yang unik. Salah satu warisan budaya terpenting adalah kesenian Reog Ponorogo, sebuah pertunjukan yang menggabungkan tarian, musik, dan pertunjukan kostum yang megah. Reog Ponorogo dipercaya berasal dari masa pemerintahan Majapahit dan merupakan simbol keberanian dan kekuatan spiritual.

Selain Reog, Ponorogo juga dikenal dengan seni tradisional lainnya seperti Tayuban, Jathilan, dan Ludruk. Seni-seni ini tidak hanya merupakan hiburan, tetapi juga merupakan bagian penting dari identitas budaya dan kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Perjuangan dan Peristiwa Bersejarah

Sebagai bagian dari perjalanan sejarah Indonesia, Ponorogo juga memiliki peran penting dalam perjuangan melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan. Selama masa perang kemerdekaan, Ponorogo menjadi saksi dari berbagai pertempuran dan peristiwa heroik yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan.

Salah satu tokoh terkenal dari Ponorogo adalah Bambang Utoyo, seorang pahlawan nasional yang berperan dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda. Pengorbanan dan semangat perjuangan pahlawan-pahlawan seperti Bambang Utoyo terus dihargai dan diabadikan oleh masyarakat Ponorogo hingga saat ini.

Pariwisata dan Pengembangan Kota

Selain kekayaan budaya dan sejarahnya, Ponorogo juga menjadi tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Keindahan alamnya yang menakjubkan, seperti Air Terjun Nglirip dan Goa Tetes, menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi para pengunjung.

Selain itu, Ponorogo juga terus melakukan pembangunan dan pengembangan infrastruktur untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Dengan berbagai proyek pembangunan yang sedang berlangsung, Ponorogo terus berupaya untuk menjadi kota yang modern dan berkembang.

 

Sejarah Asal Usul Nama Pasar Lama Kota Tangerang

Kota Tangerang saat ini sudah berusia 31 tahun. Sebagai kota yang berbatasan langsung dengan Jakarta otomatis membuat Tangerang menyandang predikat kota penyangga ibu kota. Selayaknya kota penyangga ibu kota, aktivitas perdagangan dan perekonomian di Tangerang pun cukup ramai. Salah satu nadi perekonomian di Kota Tangerang yang menjadi ikon kota tersebut ialah Pasar Lama. Pasar Lama pernah dan sempat memunculkan polemik tentang praktik pungli pernah terungkap di sana. Saat ini Pemkot Tangerang telah menata Pasar Lama yang identik sebagai pusat wisata kuliner agar terbebas dari pungli dan semakin nyaman bagi pengunjung.

Adapun Sejarah Asal Usul Nama Pasar Lama Kota Tangerang tak bisa dipisahkan dari keberadaan masyarakat Tionghoa di Tangerang yang tenar dengan sebutan Cina Benteng(ciben) Dalam sebuah tur Museum Benteng Heritage pada 2019 yang diliput Salah satu media dan salah seorang pemandu bernama Martin menceritakan bahwa sejarah kaum Cina Benteng sendiri bisa ditelusuri dari pelayaran Laksamana Cheng Ho. Cheng Ho adalah seorang penjelajah dari China yang dalam penjelajahannya sempat melewati Tanah Jawa. “Jadi Cheng Ho mengutus anak buahnya Tjen Tjie Lung untuk mendarat di Teluk Naga yang jadi bagian dari Tangerang sekarang. Dari sana dia jadi nenek moyang Cina Benteng. Dia datang sekitar tahun 1407,” jelas Martin. Rombongan Tjen Tjie Lung kemudian bertempat tinggal di sekitar sana, dan berkembang semakin banyak. Mereka bercampur dengan masyarakat di sana, dan kawin dengan penduduk setempat.

Itulah kenapa Cina Benteng sekarang memiliki kulit sawo matang dan mata yang sipit. Kelompok masyarakat Cina Benteng pun semakin berkembang. Mereka mendirikan lebih banyak perkampungan di beberapa kawasan sekitar daerah Tangerang. Selain di Teluk Naga mereka juga mendirikan perkampungan di Pasar Baru dan Pasar Lama. “Di Pasar Lama mereka buka lahan. Mereka bertani karena dekat dengan sungai Cisadane. Dan salah satu buktinya adalah Klenteng Boen Tek Bio yang sudah ada sejak tahun 1684,” ungkap Martin.

Menurut Martin, dulu kawasan Pasar Lama sama sekali tidak terlihat seperti sekarang ini. Dahulu, kawasan Pasar Lama lebih mirip perkampungan biasa yang masyarakatnya memang sudah melakukan aktivitas perdagangan. Untuk menunjukkan hal ini, terdapat foto sejarah kondisi Pasar Lama di masa lalu yang menunjukan kondisi lingkungan. Dalam foto yang terdapat di Museum Benteng Heritage tersebut, terlihat warga Cina Benteng sedang merayakan hari besar sambil berpawai di sepanjang jalan Pasar Lama tepat di depan rumah yang kelak menjadi Museum Benteng Heritage.

Menjadi Ikon Kuliner Tangerang

Pasar Lama mulai ditata sebagai kawasan kuliner sejak akhir 2012 dengan nama Kawasan Kuliner Pasar Lama. Dulu memang sudah jadi pasar. Tapi tidak seperti ini. Masyarakat yang punya kultur China kan pasti seringnya berdagang. Jadi mereka buka warung kelontong atau makanan dan yang lain gitu tapi dari rumah mereka. Bukan lapak yang kayak di pasar sekarang.” Kaum Cina Benteng yang tinggal di kawasan Pasar Lama kemudian berakulturasi dengan masyarakat Muslim yang ada di sana. Akulturasi tersebut menghasilkan hubungan yang rukun di antara keduanya dan meninggalkan banyak artefak bersejarah. Sampai saat ini toleransi tersebut dapat dilihat di Pasar Lama, dari hal paling mudah makanan peranakan yang disajikan halal dan rumah ibadah yang berdekatan. “Misalnya Masjid Jami Kalipasir itu kan menaranya berbentuk pagoda. Itu menunjukan hubungan yang baik antara warga Cina Benteng dan Muslim di Pasar Lama ini,” ungkap Martin.

Sumber: Kompas.com

Kisah Sebenarnya Pangeran Samudra di Gunung Kemukus, Tak Ada Ajakan Ritual Seks

 

Gunung Kemukus, banyak cerita mistis tentang tempat tersebut dan umumnya Masyarakat mengenal tempat ini sebagai tempat ritual seks terselubung guna meminta Pesugihan Dan ternyata anggapan tersebut justru muncul akibat pembelokan makna yang sengaja dilakukan oleh oknum tertentu, berkaitan dengan sejarah hidup Pangeran Samudra. Berdasarkan cerita sejarah, Pangeran Samudra merupakan salah satu putra dari Prabu Brawijaya dari istri selir  merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit. Ia melakukan perjalanan mencari Sunan Kalijaga untuk berguru agama Islam. Kala itu, saat kerajaan Majapahit runtuh, para pangeran pun berpencar. Ada yang memeluk agama Islam, ada pindah ke Bali lalu memeluk agama Hindu, serta ada pula yang tetap memeluk agama Hindu dan tinggal di Jawa.

Berikut ini Perjalanan singkat Pangeran Samudra

Kisah Pangeran Samudra tersebut disampaikan oleh Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof  Bani Sudardi. Dan Ia menjelaskan bahwa Pangeran Samudra merupakan putra Prabu Brawijaya yang memeluk agama Islam. Pada Suatu ketika, Pangeran Samudra meninggalkan tempat orangtuanya, yaitu istana Prabu Brawijaya, untuk menemui Sunan Kalijaga
Oleh Sunan Kalijaga, Pangeran Samudra diminta untuk menyebarkan agama Islam di daerah sekitar Gunung Lawu. Di tempat itu juga ada saudara Pangeran Samudra yang sudah terlebih dulu mememeluk agama Islam.
Singkat cerita Setelah tugasnya selesai, Pangeran Samudra meninggalakan Gunung Lawu dan menuju ke arah Barat Laut, menuruni gunung. Tetapi dalam perjalanannya, pangeran mengalami sakit yang sampai membuatnya berjalan terhuyung huyung atau doyong. Menurut Bani, daerah tempat Pangeran Samudra sakit terhuyung atau doyong tersebut akhirnya diberi nama Desa Doyong . Dan ketika Pangeran Samudra akan melanjutkan perjalanannya ke sebelah utara, ia pun meninggal di sana. Desa itu dinamakan Pendem, berarti tempat memendam mayatnya Pangeran Samudra.
“Pangeran Samudra berpesan agar dimakamkan di sebuah gunung, yang mana karena gunung tersebut berkabut, maka disebutlah sebagai Gunung Kemukus. Sebenarnya gunung ini tidak tinggi, cuma daerahnya memang lebih tinggi dari daerah sekitar.” kata Bani Sudardi kepada media.

Kesalahan anggapan hubungan Pangeran Samudra dan ibu tirinya Pangeran Samudra nyatanya tidak memiliki cinta dalam artian asmara kepada Dewi Ontrowulan, ibu tirinya. Seperti di jelaskan Bani bahwa hubungan mereka berdua hanya sebatas kasih sayang layaknya ibu dan anak. Ketika Pangeran Samudra pergi meninggalkan Majapahit, Dewi Ontrowulan ingin pergi mencari keberadaan sang anak karena lama tak bertemu. “Walaupun  daerahnya sebatas Jawa Tengah dan Jawa Timur, tapinamun pada jaman dahulu hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki,” ucap Bani.
Berita meninggalnya Pangeran Samudra Pada akhirnya terdengar sampai di telinga Dewi Ontrowulan, pada saat ia dalam perjalanan. Setelah mendapatkan info lokasi pemakaman putra tirinya, Dewi Ontrowulan langsung menuju Gunung Kemukus. Tapi, akibat kelelahan dalam perjalanan panjang yang berbulan-bulan lamanya, Dewi Ontrowulan pun meninggal dunia. Sebelum meninggal, ia berpesan agar dimakamkan di samping kuburan Pangeran Samudra. “Jadi, bukan dimakamkan bersama, tapi dimakamkan di samping anaknya. Biasa itu, karena rasa sayangnya, sampai meninggal pun ia ingin ada di samping anaknya,” tutur Prof Bani.

Rumor tentang ritual seks Gunung Kemukus dan pergeseran makna

Bani Sudari menyebut rumor ini sebagai salah satu bentuk interpretasi dan pergeseran makna. Pangeran Samudra kabarnya pernah mengajarkan bahwa jika hendak mencari tuhan, hendaklah seseorang datang seperti mengunjungi kekasihnya. Namun Orang-orang justru menginterpretasikan pesan itu dengan “berkasih-kasihan”. Padahal maksud pangeran Samudra ialah, jika ingin bersatu dengan tuhan, maka kita datang kepada Tuhan ini seperti mendatangi kekasih. “Mendatangi kekasih itu harus dengan versi terbaik diri dengan perasaan yang gembira dan rindu,” kata Bani.

Sementara itu, pemilihan waktu ritual yang biasanya dilakukan masyarakat saat Jumat Pon dikarenakan lantaran bertepatan dengan hari meninggalnya Pangeran Samudera. Bani melanjutkan, rumor Pangeran Samudra mengajarkan melakukan seks bebas seperti itu sangat jauh dari kebenaran. Padahal, ia adalah seorang ulama yang mendapat ajaran langsung dari Sunan Kalijaga. “Sunan Kalijaga sendiri terkenal sebagai wali yang bersih, serta memiliki ajaran yang lurus, yang mana ajarannya juga sangat erat dengan etika,” jelasnya

Menurut sejarah, nyatanya informasi terkait ritual seks bebas ini tidak ditemukan dari naskah-naskah abad ke-19. Menurut kajian Bani Sudardi, tidak ada catatan jelas terkait kapan Gunung Kemukus dijadikan tempat ritual seks, tetapi diperkirakan setelah abad ke-19. Ini lantaran dalam catatan abad ke-19 berupa Serat Centhini. belum ada disebutkan terkait situs bernama Gunung Kemukus. “Jadi setelah masa itulah, mungkin setelah abad ke-19 sampai awal abad ke-20, baru ada ritual seks seperti itu, menurut perkiraan saya saat ini,” terangnya.
Kesalahan interpretasi ini bahkan menimbulkan ritual seks yang bersumber dari mulut ke mulut, bukan dari ajaran nyata Pangeran Samudra. Ritual seks disebutkan telah ada sejak zaman Majapahit, bagi para penghayat kepercayaan Bhairawa, dan ini berlanjut meski tertutup. “Kalau ritual zaman dulu, ada karena salah kaprah dari kepercayaan atau anggapan bahwa untuk bersatu dengan Tuhan, dapat dilaksanakan lewat cara ini. Tetapi kalau di Gunung Kemukus, ritual ini adalah ritual untuk mendapatkan kekayaan,” kata Bani. Mulai sekitar tahun 1950-an pasca kemerdekaan, saat krisis ekonomi, datanglah orang-orang yang percaya dengan melakukan ritual seks selama 7 kali berturut-turut, maka salah satu dari yang melakukan itu akan mendapat rejeki berlimpah, sementara pasangan yang satunya akan mengalami kemelaratan.
 

Meskipun demikian, pemerintah Jawa Tengah tetap berupaya untuk menghapus stigma negatif tentang Gunung Kemukus. Bahkan kini banyak peziarah yang berkunjung ke makam Pangeran Samudra dan ibunya, Dewi Ontrowulan, untuk berdoa. Sekarang pemerintah Jawa Tengah telah membangun lokasi tersebut, menjadi konsep wisata keluarga. Inilah yang diharapkan dapat membuat orang sadar, bahwa Pangeran Samudra adalah tokoh agama yang patut didoakan.

Sumber: Kompas.com

 
 

 

 

Asal Usul Nama Tangerang Propinsi Banten

Nama Tangerang berasal dari kata “Tangeran”, kata “Tangeran” dalam bahasa Sunda memiliki arti “tanda”. Tangeran di sini berupa tugu yang didirikan sebagai tanda batas wilayah kekuasaan Banten dan VOC, pada waktu itu.

Tangeran tersebut berlokasi dibagian barat Sungai Cisadane (Kampung Grendeng atau tepatnya di ujung jalan Otto Iskandar Dinata sekarang). Tugu tersebut dibangun oleh Pangeran Soegiri, salah satu putra Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada tugu tersebut tertulis prasasti dalam huruf Arab gundul dengan dialek Banten, yang isinya sebagai berikut :

Bismillah peget Ingkang Gusti
Diningsun juput parenah kala Sabtu
Ping Gasal Sapar Tahun Wau
Rengsena Perang nelek Nangeran
Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian
Sakebeh Angraksa Sitingsung Parahyang-Titi

Artinya terjemahan dalam bahasa Indonesia :
Dengan nama Allah tetap Maha Kuasa
Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu
Tanggal 5 Sapar Tahun Wau
Sesudah perang kita memancangkan Tugu
Untuk mempertahankan batas Timur Cipamugas
(Cisadane) dan Barat yaitu Cidurian
Semua menjaga tanah kaum Parahyang

Kemudian kata “Tangeran” berubah menjadi “Tangerang” disebabkan pengaruh ucapan dan dialek dari tentara kompeni yang berasal dari Makasar. Orang-orang Makasar tidak mengenal huruf mati, akhirnya kata “Tangeran” berubah menjadi “Tangerang”.

Menurut kajian buku “Sejarah Kabupaten Tangerang” yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang bekerjasama dengan LPPM Unis Tangerang, daerah Tangerang sejak dulu telah mengenal pemerintahan. Cerita pemerintahan ini telah berkembang di masyarakat.

Cerita itu berawal dari tiga maulana yang diangkat oleh penguasa Banten pada waktu itu. Tiga Maulana kemudian mendirikan kota Tangerang itu adalah Yudhanegara, Wangsakara dan Santika. Pangkat ketiga Maulana tersebut adalah Aria.

Pemerintahan kemaulanaan yang menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah di Tigaraksa (artinya pemimpin), mendirikan benteng, disepanjang tepi Sungai Cisadane. Kata “Benteng” ini kemudian menjadi sebutan kota Tangerang. Dalam pertempuran melawan VOC, maulana ini berturut-turut gugur satu persatu. Dengan gugurnya para maulana, maka berakhirlah pemerintahan kemaulanaan di Tangerang. Masyarakat mengangap pemerintahan kemaulanaan ini sebagai cikal bakal pemerintahan di Tangerang.

Untuk mengungkapkan asal-usul tangerang sebagai kota “Benteng”, diperlukan catatan yang menyangkut perjuangan. Menurut sari tulisan F. de Haan yang diambil dari arsip VOC,resolusi tanggal 1 Juni 1660 dilaporkan bahwa Sultan Banten telah membuat negeri besar yang terletak di sebelah barat sungai Untung Jawa, dan untuk mengisi negeri baru tersebut Sultan Banten telah memindahkan 5 sampai 6.000 penduduk.

Kemudian dalam Dag Register tertanggal 20 Desember 1668 diberitakan bahwa Sultan Banten telah mengangkat “Radin Sina Patij dan Keaij Daman” sebagai penguasa di daerah baru tersebut. Karena dicurigai akan merebut kerajaan, Raden Sena Pati dan Kyai Demang dipecat Sultan. Sebagai gantinya diangkat Pangeran Dipati lainnya. Atas pemecatan tersebut Ki Demang sakit hati. Kemudian tindakan selanjutnya ia mengadu domba antara Banten dan VOC. Tetapi ia terbunuh di Kademangan.

Dalam arsip VOC selanjutnya, yaitu dalam Dag Register tertanggal 4 Maret 1980 menjelaskan bahwa penguasa Tangerang pada waktu itu adalah ”Keaij Dipattij Soera Dielaga”. Kyai Soeradilaga dan putranya Subraja minta perlindungan kompeni dengan diikuti 143 pengiring dan tentaranya (keterangan ini terdapat dalam Dag Register tanggal 2 Juli 1982). Ia dan pengiringnya ketika itu diberi tempat di sebelah timur sungai, berbatasan dengan pagar kompeni.

Ketika bertempur dengan Banten, ia beserta ahli perangnya berhasil memukul mundur pasikan Banten. Atas jasa keunggulannya itu kemudian ia diberi gelar kehormatan Raden Aria Suryamanggala, sedangkan Pangerang Subraja diberi gelar Kyai Dipati Soetadilaga. Selanjutnya Raden Aria Soetadilaga diangkat menjadi Bupati Tangerang I dengan wilayah meliputi antara sungai Angke dan Cisadane. Gelar yang digunakannya adalah Aria Soetidilaga I. Kemudian dengan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 17 April 1684, Tangerang menjadi kekuasaan kompeni, Banten tidak mempunyai hak untuk campur tangan dalam mengatur tata pemerintahan di Tangerang. Salah satu pasal dari perjanjian tersebut berbunyi: ”Dan harus diketahui dengan pasti sejauh mana batas-batas daerah kekuasaan yang sejak masa lalu telah dimaklumi maka akan tetap ditentukan yaitu daerah yang dibatasi oleh sungai Untung Jawa atau Tangerang dari pantai Laut Jawa hingga pegunungan-pegunungan sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan-kelokannya dan kemudian menurut garis lurus dari daerah Selatan hingga utara sampai Laut Selatan. Bahwa semua tanah disepanjang Untung Jawa atau Tangerang akan menjadi milik atau ditempati kompeni”

Dengan adanya perjanjian tersebut daerah kekuasaan bupati bertambah luas sampai sebelah barat sungai Tangerang. Untuk mengawasi Tangerang maka dipandang perlu menambah pos-pos penjagaan di sepanjang perbatasan sungai Tangerang, karena orang-orang Banten selalu menekan penyerangan secara tiba-tiba. Menurut peta yang dibuat tahun 1962, pos yang paling tua terletak di muara sungai Mookervaart, tepatnya disebelah utara Kampung Baru. Namun kemudian ketika didirikan pos yang baru, bergeserlah letaknya ke sebelah Selatan atau tepatnya di muara sungai Tangerang.

Menurut arsip Gewone Resolutie Van hat Casteel Batavia tanggal 3 April 1705 ada rencana merobohkan bangunan-bangunan dalam pos karena hanya berdinding bambu. Kemudian bangunannya diusulkan diganti dengan tembok. Gubernur Jenderal Zwaardeczon sangat menyetujui usulan tersbut, bahkan diinstruksikan untuk membuat pagar tembok mengelilingi bangunan-bangunan dalam pos penjagaan. Hal ini dimaksudkan agar orang Banten tidak dapat melakukan penyerangan. Benteng baru yang akan dibangun untuk ditempati itu direncanakan punya ketebalan dinding 20 kaki atau lebih. Disana akan ditempatkan 30 orang Eropa dibawah pimpinan seorang Vandrig(Peltu) dan 28 orang Makasar yang akan tinggal diluar benteng. Bahan dasar benteng adalah batu bata yang diperoleh dari Bupati Tangerang Aria Soetadilaga I.

Setelah benteng selesai dibangun personilnya menjadi 60 orang Eropa dan 30 orang hitam. Yang dikatakan orang hitam adalah orang-orang Makasar yang direkrut sebagai serdadu kompeni. Benteng ini kemudian menjadi basis kompeni dalam menghadapi pemberontakan dari Banten. Kemudian pada tahun 1801, diputuskan untuk memperbaiki dan memperkuat pos atau garnisun itu, dengan letak bangunan baru 60 roeden agak ke tenggara, tepatnya terletak disebelah timur Jalan Besar pal 17. Orang-orang pribumi pada waktu itu lebih mengenal bangunan ini dengan sebutan ”Benteng”. Sejak itu, Tangerang terkenal dengan sebutan Benteng. Benteng ini sejak tahun 1812 sudah tidak terawat lagi, bahkan menurut ”Superintendant of Publik Building and Work” tanggal 6 Maret 1816 menyatakan: ”…Benteng dan barak di Tangerang sekarang tidak terurus, tak seorangpun mau melihatnya lagi. Pintu dan jendela banyak yang rusak bahkan diambil orang untuk kepentingannya”

Kabupaten Tangerang sejak ratusan tahun lalu sudah menjadi daerah perlintasan perniagaan, perhubungan sosial dan interaksi antardaerah lain. Hal ini, disebabkan letak daerah ini yang berada di dua poros pusat perniagaan Jakarta – Banten.

Berdasarkan catatan sejarah, daerah ini sarat dengan konflik kepentingan perniagaan dan kekuasaan wilayah antara Kesultanan Banten dengan Penjajah Belanda.

Secara tutur-tinular, masa pemerintahan pertama secara sistematis yang bisa diungkapkan di daerah dataran ini, adalah saat Kesultanan Banten yang terus terdesak agresi penjajah Belanda lalu mengutus tiga maulananya yang berpangkat aria untuk membuat perkampungan pertahanan di Tangerang.

Ketiga maulana itu adalah Maulana Yudanegara, Wangsakerta dan Santika. Konon, basis pertahanan merka berada di garis pertahanan ideal yang kini disebut kawasan Tigaraksa dan membentuk suatu pemerintahan. Sebab itu, di legenda rakyat cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksasa [sebutan Tigaraksasa, diambil dari sebutan kehormatan kepada tiga maulana sebagai tiga pimpinan = tiangtiga = Tigaraksa].

Pemerintahan ketiga maulana ini, pada akhirnya dapat ditumbangkan dan seluruh wilayah pemerintahannya dikuasai Belanda, berdasar catatan sejarah terjadi tahun 1684. Berdasar catatan pada masa ini pun, lahir sebutan kota Tangerang. Sebutan Tangerang lahir ketika Pangeran Soegri, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian barat Sungai Cisadane [diyakini di kampung Gerendeng, kini].

Tugu itu disebut masyarakat waktu itu dengan Tangerang [bahasa Sunda=tanda] memuat prasasti dalam bahasa Arab Gundul Jawa Kuno, “Bismillah peget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/ Rengsenaperang netek Nangeran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang”

Arti tulisan prasasti itu adalah: “Dengan nama Allah tetap Yang Maha Kuasa/Dari kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/Untuk mempertahankan batas timur Cipamugas [Cisadane] dan barat Cidurian/ Semua menjaga tanah kaum Parahyang”

Diperkirakan sebutan Tangeran, lalu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang.
Desakan pasukan Belanda semakin menjadi-jadi di Banten sehingga memaksa dibuatnya perjanjian antar kedua belah pihak pada 17 April 1684 yang menjadikan daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Penjajah Belanda. Sebagai wujud kekuasaannya, Belanda pun membentuk pemerintahan kabupaten yang lepas dari Banten dengan dibawah pimpinan seorang bupati.

Para bupati yang sempat memimpin Kabupaten Tangerang periode tahun 1682 – 1809 adalah Kyai Aria Soetadilaga I-VII. Setelah keturunan Aria Soetadilaga dinilai tak mampu lagi memerintah kabupaten Tangerang dengan baik, akhirnya penjajah Belanda menghapus pemerintahan di daerah ini dan memindahkan pusat pemerintahan ke Jakarta.

Lalu, dibuat kebijakan sebagian tanah di daerah itu dijual kepada orang-orang kaya di Jakarta, sebagian besarnya adalah orang-orang Cina kaya sehingga lahir masa tuan tanah di Tangerang.

Pada 8 Maret 1942, Pemerintahan Penjajah Belanda berakhir di gantikan Pemerintahan Penjajah Jepang. Namun terjadi serangan sekutu yang mendesak Jepang di berbagai tempat, sebab itu Pemerintahan Militer Jepang mulai memikirkan pengerahan pemuda-pemuda Indonesia guna membantu usaha pertahanan mereka sejak kekalahan armadanya di dekat Mid-way dan Kepulauan Solomon.

Kemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah beberapa organisasi militer, diantaranya yang terpenting ialah Keibodan [barisan bantu polisi] dan Seinendan [barisan pemuda]. Disusul pemindahan kedudukan Pemerintahan Jakarta Ken ke Tangerang dipimpin oleh Kentyo M Atik Soeardi dengan pangkat Tihoo Nito Gyoosieken atas perintah Gubernur Djawa Madoera. Adapun Tangerang pada waktu itu masih berstatus Gun atau kewedanan berstatus ken (kabupaten).

Berdasar Kan Po No. 34/2604 yang menyangkut pemindahan Jakarta Ken Yaskusyo ke Tangerang, maka Panitia Hari Jadi Kabupaten Tangerang menetapkan terbentuknya pemerintahan di Kabupaten Tangerang. Sebab itu , kelahiran pemerintahan daerah ini adalah pada tanggal 27 Desember 1943. Selanjutnya penetapan ini dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tertanggal 25 Oktober 1984.

Dalam masa-masa proklamasi, telah terjadi beberpa peristiwa besar yang melibatkan tentara dan rakyat Kabupaten Tangerang dengan pasukan Jepang dan Belanda, yaitu Pertempuran Lengkong dan Pertempuran Serpong.

Pertumbuhan perekonomian Kabupaten Tangerang sebagai daerah lintasan dan berdekatan dengan Ibukota Negara Jakarta melesat pesat. Apalagi setelah diterbitkannya Inpres No.13 Tahun 1976 tentang pengembangan Jabotabek, di mana kabupaten Tangerang menjadi daerah penyanggah DKI Jakarta.

Tanggal 28 Pebruari 1993 terbit UU No. 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Tangerang. Berdasarkan UU ini wilayah Kota Administratif Tangerang dibentuk menjadi daerah otonomi Kota Tangerang, yang lepas dari Kabupaten Tangerang. Berkaitan itu terbit pula Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 1995 tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Dati II Tangerang dari Wilayah Kotamadya Dati II Tangerang ke Kecamatan Tigaraksa.

Akhirnya, pada awal tahun 2000, pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang pun di pindahkan Bupati H. Agus Djunara ke Ibukota Tigaraksa. Pemindahan ini dinilai strategis dalam upaya memajukan daerah karena bertepatan dengan penerapan otonomi daerah, diberlakukannya perimbangan keuangan pusat dan daerah, adanya revisi pajak dan retribusi daerah, serta terbentuknya Propinsi Banten.

Sumber: abouttng.com

Sejarah Asal Sebutan Cina Benteng di Kota Tangerang

Sejarah Asal Sebutan Cina Benteng di Kota Tangerang. Jika ngomongin Tahun Baru Imlek dan Kota Tangerang, pastinya  tak akan bisa lepask dengan yang namanya masyarakat Cina Benteng. Cina Benteng merupakan sebutan untuk masyarakat keturunan Tionghoa yang bermukim di wilayah Tangerang. Penyebutan ini tentunya memiliki sejarah  yang panjang.

Mengapa disebut Cina Benteng? Ini karena  pada masa itu terdapat sebuah benteng penjajah Belanda yang dikenal warga pribumi dengan nama Benteng Makasar. Didirikan sekitar abad ke-16. Benteng tersebut digunakan sebagai pos pengamanan untuk menghalau serangan dari Kesultanan Banten pada masa itu. Benteng ini juga merupakan benteng terdepan pertahanan Belanda di Pulau Jawa.

Benteng tersebut merupakan pembatas wilayah Kesultanan Banten dengan VOC yang beririsan dengan aliran Sungai Cisadane. Di sisi barat sungai wilayah kekuasaan Banten. Sebelah timur kekuasaan Belanda. Pada tahun itu, VOC mengizinkan warga sekitar Benteng untuk membuka lahan pertanian di sekitar perairan Sungai Cisadane. Kesempatan itu tak disia-siakan warga peranakan Tionghoa yang pandai bertani, untuk mendiami lahan di sekitar Benteng. Hingga akhirnya sebutan Cina Benteng pun melekat pada warga peranakan Tionghoa di Tangerang.

Menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang dan Batavia sudah ada setidak-tidaknya sejak 1407 NI. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Tiongkok yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane, yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.Diketahui mereka mampu berbaur dan akrab dengan pribumi Tangerang. Mereka rata-rata bekerja sebagai petani.

Perlu diketahui, warga peranakan Tionghoa yang datang ke Tangerang pada waktu itu terbagi menjadi dua gelombang.Gelombang yang kedua yang datang lebih banyak dan berprofesi sebagai pedagang. Hal ini yang membuat mereka berbeda satu sama lain secara perekonomian.

“Dari segi perekonomian, pedagang memang lebih kaya dibanding petani dan memang kondisinya demikian,” tuturnya. Dosen Agama Budha Universitas Pamulang (Unpam), Surya Budiman menjelaskan, masyarakat peranakan Tionghoa pertama kali tiba di Tangerang tahun 1407.

Dan mereka mampu berbaur dan akrab dengan masyarakat pribumi Tangerang. Mereka rata-rata bekerja sebagai petani. Surya mengatakan tidak tahu berapa banyak jumlah penduduk waga Cina Benteng sampai saat ini.

Secara kultur, termasuk soal adat pernikahan, warga Cina Benteng tidak memiliki perbedaan dengan nenek moyang mereka di China. Tergantung dasarnya. Kalau Budha ngikutin (ajaran) Budha. Kalau Hindu ngikutin (ajaran) Hindu. Jadi tidak ada perbedaan,” pungkasnya.

Sumber: Suarajakarta.id

Asal- Usul Tarian Seni Kuda Lumping

Asal- Usul Tarian Seni Kuda Lumping atau yang disebut kuda kepang belum diketahui dengan pasti. Tapi, kebanyakan yang meyakini Kuda Lumping berasal dari dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi Belanda. Dalam versi lain juga dijelaskan bahwa Kuda Lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah yang dibantu oleh Sunan Kalijaga melawan Belanda.

Disisi lain ditemukan lagi dalam versi berbeda yang menyebutkan bahwa tarian Kuda Lumping mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengkubuwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Dari ketiga versi tersebut, belum dapat dikatakan dengan pasti kisah mana yang menjadi asal-usul Kuda Lumping ini. Akan tetapi, diperkirakan tarian Kuda Lumping sudah ada sejak jaman kerajaan kuno atau masa pra-Hindu karena masih diwarnai dengan kepercayaan animisme.

Asal- Usul Tarian Seni Kuda Lumping

Seni Kuda Lumping populer di kalangan rakyat daerah Jawa Timur, diantaranya Ponorogo, Blitar, Malang, Tulung Agung, dan masih banyak lagi . Dan umumnya, tari Kuda Lumping ditampilkan pada acara-acara khusus seperti penyambutan tamu kehormatan dan juga syukuran. Namun, seiring berjalannya waktu, tarian Kuda Lumping juga dikaitkan dengan hal-hal magis.
 
Hal tersebut karena sebelum tarian Kuda Lumping ditampilkan akan ada dua orang pawang sebagai pemimpin spiritual yang tugasnya  mempertahankan cuaca agar tidak hujan. Pawang dalam Kuda Lumping disebut Warok. Mereka akan mengenakan baju serba hitam bergaris merah dengan kumis tebal. Lalu, pawang yang satunya akan bertugas menjaga lingkungan dari gangguan ghaib, memulihkan penari yang kesurupan, dan mengendalikan makhluk halus yang merasuki pemain.
 

Berdasarkan cerita, kesurupan yang dialami oleh para pemain Kuda Lumping ini memang disengaja karena bekerja sama dengan jin. Maksut dan tujuanya ialah untuk menjadi hiburan atau tontonan. Para Pemain Kuda Lumping yang mengalami kesurupan akan memulai atraksi dengan memakan beling, makan bara api, berjalan di atas pecahan beling dan bara api, disayat pisau, seta banyak atraksi lainnya. Anehnya, para pemain Kuda Lumping yang kesurupan ini tidak akan merasakan sakit atau cedera.

Tari Kuda Lumping ini menghadirkan empat fragmen tarian, yaitu dua kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri. Pada tari Buto Lawas umumnya akan ditarikan oleh kaum pria saja terdiri dari empat sampai enam orang penari. Beberapa penari akan menunggangi kuda kepang yaitu anyaman bambu dan menari sambil mengikuti alunan gamelan. Nah di saat inilah para penari Buto Lawas akan mulai mengalami kerasukan. Dalam keadaan tidak sadar, mereka akan terus menari sambil melakukan atraksi-atraksi dibawah yang tidak biasa, memakan kaca, makan bara api, dan lain-lain.
 
Untuk mengembalikan kesadaran mereka, maka para warok akan memberikan pengobatan sehingga kesadaran para penonton akan pulih seperti sedia kala. Pada fragmen selanjutnya, para penari pria dan wanita akan bergabung membawakan tari Senterewe. Kemudian, pada fragmen terakhir, enam orang wanita akan membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian tarian Kuda Lumping. Tari Kuda Lumping bermakna sebagai lambang kekuatan, kegagahan, kegigihan, serta aspek-aspek militer lainnya dalam peperangan. Kuda adalah simbol kekuatan fisik. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan rtimis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu seperti layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Sumber: Kompas.com

Asal Usul Candi Borobudur

Asal Usul Candi Borobudur, Candi Borobudur merupakan  sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi dengan banyak stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800 an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur merupakan candi atau kuil Buddha terbesar yang ada di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Monumen ini terdiri atas 6 teras berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat 3 pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha paling lengkap dan paling banyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha Para peziarah masuk melalui sisi timur dan memulai ritual di dasar candi dengan berjalan melingkari bangunan suci ini searah jarum jam, sambil terus naik ke undakan berikutnya melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Buddha. Ke 3 tingkatan itu adalah Kāmadhātu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Dalam perjalanannya para peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan tak kurang dari 1.460 panel relief indah yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Berdasarkan bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 seiring dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh emPu Sindok. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran . Proyek pemugaran terbesar digelar pada  waktu 1975 sampai 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, selanjutnya situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.

Borobudur saat ini masih dipakai sebagai tempat ziarah keagamaan tiap tahun umat Buddha yang datang dari seluruh Indonesia dan mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak. Berkaitan dengan kepariwisataan, Borobudur merupakan objek wisata tunggal yang ada di Indonesia yang paling banyak dikunjungi touris baik lokal maupun mancanegara.

Pada 11 Februari 2022, pemerintah meresmikan status Candi Borobudur kembali sebagai tempat peribadatan umat Buddhis di Indonesia dan dunia.

Sumber: Wikipedia

Benarkah Telur Sebagai Bahan Perekat Untuk Membangun Candi Jaman Kuno?

Kita sering mendengar cerita bahwa nenek moyang kita ketika membangun candi menggunakan putih telur sebagai perekat batu candi karena pada waktu itu belum ditemukan bahan perekan semen.

Cerita ini  kita dengar bukan hanya pada bangunan candi saja yang di klaim demikian, tapi juga pada bangunan lain contohnya istana Air Taman Sari Yogyakarta juga konon menggunakan telur putih. Tapi apakah benar candi sekokoh Borobudur menggunakan telur putih merupakan bahan pengganti semen?

Praktik mencampur bahan organik ke dalam campuran semen atau mortar sepertinya bukanlah hal yang aneh. Praktik ini bahkan terkadang masih dilakukan dan didiskusikan oleh berbagai peneliti. Bahan organik yang dicampur pun juga beragam, mulai dari telur, lemak hewan bahkan ada yang bilang bahwa tembok Cina dibangun dengan bantuan ketan (sticky rice) dan putih telur.

Sebelumnya perlu teman cerita pahami bahwa dalam dunia konstruksi, perekat antara bata atau batu disebut sebagai mortar atau spesi. Biasanya bahan ini merupakan campuran dari pasir, semen, dan air. Mortar digunakan untuk merekatkan benda seperti bata atau batu.

Kembali ke cerita telur, entah siapa yang memulai cerita penggunaan telur putih sebagai perekat batu candi. Namun, ternyata cerita ini bukan saja ditemukan di bangunan candi                                                                                                                                                                                                        Indonesia. Beberapa negara lain di Asia dan Eropa juga memiliki cerita bahwa bangunan tua mereka dibangun dengan bantuan putih telur.

Salah satu fenomena ini dapat kita temui  di Filipina. Legend says, bangunan gereja-gereja tua di Filipina dibangun dengan mortar yang memiliki campuran putih telur. Praktik ini dibawa oleh orang-orang Spanyol saat datang ke Filipina.

Sebuah penelitian pernah dilakukan untuk membuktikan bahwa apakah benar mortar pada bangunan-bangunan tua di Filipina memiliki elemen protein dari telur, sayangnya hasil penelitian tersebut negatif (Eusebio, 2009). Namun, dokumen-dokumen sejarah mengindikasikan adanya penggunaan telur dalam jumlah besar dalam sebuah renovasi gereja di Filipina (Jose, 1986; 2003).

Secara teori, telur sebagai campuran mortar bertujuan untuk menghambat penguapan air. Telur mengikat air agar bertahan dengan semen selama mungkin agar tidak cepat mengering. Putih telur juga dapat meningkatkan konsistensi, kekompakan, daya tahan dan mengurangi risiko retak pada mortar. 

Batu Candi Bukan Direkatkan dengan Putih Telur

Dari beberapa contoh dapat kita ketahui bahwa putih telur pada dasarnya merupakan zat aditif bukan zat utama. Konstruksi asli candi umumnya tidak menggunakan bahan mortar sebagai perekatnya.

Hal ini dapat kita lihat di Candi Borobudur. Mortar di Candi Borobudur baru digunakan pada proses pemugaran yang dilakukan oleh Van Erp pada tahun 1907-1911. Pada saat itu kondisi konstruksi Candi Borobudur memprihatinkan. Air akan muncul dari sela-sela batuan ketika turun hujan sehingga bisa menyebabkan air menggenang. Van Erp kemudian menggunakan mortar untuk mengatasi hal tersebut.

Batu – batu candi akan dipahat sedemikian rupa sehingga batu akan saling mengisi dan mengunci satu sama lain. Dalam buku Kearsitektural Candi Borobudur yang disusun Balai Konservasi Peninggalan Borobudur disebutkan bahwa pada Candi Borobudur batuan andesit ditata dengan pola susun batu arah horizontal. Jenis sambungan batu yang ada pada Candi Borobudur ada empat yaitu:

Pertama, sambungan batu dengan bentuk seperti ekor burung. Sambungan tipe ini dijumpai hampir pada setiap sambungan batu di dinding.

Teknik yang digunakan pada candi dengan bahan bata agak sedikit berbeda. Perekat pada candi yang dibangun dengan bata menggunakan serbuk hasil gosokan permukaan antar bata. Serbuk ini kemudian diberi air sehingga dapat membuat bata saling melekat.

Sebuah candi tidaklah dibangun dengan asal-asalan. Semua dibuat dengan perhitungan yang presisi. Layaknya sebuah lego, satu per satu batu candi disusun sedemikian rupa sehingga bisa berdiri kokoh. Bangunan candi menjadi bukti kemahiran dan kejeniusan bangsa kita sehingga harus tetap kita jaga dan lestarikan. Mari kunjungi, lindungi, dan lestarikan cagar budaya yang ada di sekitar kita.

Sumber : https://skalacerita.com

Asal Nama Indonesia Menurut Sejarah

Mungkin banyak yang belum tahu Asal Nama Indonesia Menurut Sejarah, dan sejak kapan nama indonesia itu muncul?. Untuk sejarah menamaan indonesia telah di terangkan oleh bapak proklamator kit dalam tulisanya yang berjudul Tentang nama indonesia yang pernah di muat dalam De Socialist nomer 10, Zaterdag, pada tanggal 8 Desember 1928. Dalam tulisanya bung hatta menjelaskan bahwa pencetus nama indonesia adalah  seorang ahli etnologi yang berasal dari negara Jerman, disebut-sebut sebagai pencetus nama Indonesia, yakni Indonesie dan orang tersebut bernama Adolf Bastian.

Info ini diperolehnya dari pidato Prof Dr GA Wilken waktu terima gelar guru besar pada 1885 di Kampus Leiden. Dalam beberapa kata Wilken, Bastian ialah seorang “raja sarjana-sarjana pengetahuan bangsa-bangsa.Bung Hatta melanjutkan, Bastian memang menggunakan panggilan Indonesie untuk judul karyanya: “Indonesien oder die Inseln des malayischen Archipels” (1884). Indonesie dipakainya untuk mengacu pada bukti geografis, yaitu “Kepulauan Nusantara.”